Pengusaha Tolak Kenaikan Bea Masuk Buah

Jum'at, 24 September 2004 | 12:24 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Asosiasi Produsen dan Makanan menolak rencana pemerintah menaikkan bea masuk impor buah. Menurut Thomas Dharmawan, ketua asosiasi tersebut, tujuan kenaikan bea masuk untuk melindungi petani tidaklah tepat. Harga buah-buahan di tingkat petani pada dasarnya sudah lebih rendah dibanding buah-buahan impor, tapi persoalannya harga buah lokal menjadi mahal ketika sampai di pasaran dibanding buah luar negeri.

"Saya sering makan jeruk Medan. Tetapi ternyata harganya tidak jauh beda dengan jeruk impor bahkan sering lebih mahal," kata Thomas kepada Tempo di Jakarta, Jumat (24/9). Dengan harga yang lebih mahal ini, lanjut dia, masyarakat cenderung lebih memilih buah yang lebih murah di kelas yang sama. "Jadi di sini tidak diperhitungkan lagi apakah itu produksi dalam negeri atau tidak," katanya.

Pemerintah melalui Departemen Pertanian memang merencanakan kenaikkan bea masuk impor buah. Rencana tersebut sudah masuk ke Departemen Keuangan untuk mendapat pengesahan.

Masih menurut Thomas, mahalnya buah lokal disebabkan banyaknya pungutan liar dalam rantai distribusi dari petani sampai konsumen. Pungutan-pungutan itu bisanya terjadi pada saat pengiriman seperti di area jembatan timbang. Dia mencontohkan dalam pengiriman apel dari Malang ke Jakarta paling tidak harus melewati 10 jembatan timbang, yang masing-masing jembatan "memasang tarif" Rp 25 - 30 ribu per truk. Alhasil, harga apel Malang Rp 12 ribu per kilo, dan apel Amerika hanya Rp 9 ribu per kilo. "Dengan demikian apa akhirnya ini lebih membantu petani?" tanya Thomas.

Data di asosiasi menyebutkan bea masuk buah saat ini sebesar 5 persen. Sedangakan kenaikan direncanakan mencapai 20 sampai 25 persen dan akan mulai diterapkan per 1 Januari 2005.

Menurut Thomas, yang lebih penting dilakukan pemerintahan mendatang adalah bagaimana memangkas pungutan liar yang membuat harga mahal.

Muchamad Nafi - Tempo






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: