Larangan Ekspor Kayu Gergajian Tak Pengaruhi Perolehan Devisa

Kamis, 14 Oktober 2004 | 16:13 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Larangan ekspor kayu gergajian yang belum lama ini diberlakukan oleh pemerintah diyakini tidak mempengaruhi perolehan devisa negara. Hal ini diungkapkan Kepala Pusat Informasi Departemen Kehutanan Transtoto Handadhari kepada wartawan, Kamis (14/10).

Pada 24 September lalu pemerintah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Kehutanan dan Menteri Perindustrian. SKB ini mengatur pelarangan ekspor kayu gergajian dengan ukuran dan ketebalan melebihi 6 milimeter.

Hal ini tidak berpengaruh pada devisa karena nilai ekspor kayu gergajian tidak besar. Transtoto mencontohkan, nilai ekspor kayu gergajian ke Jepang hanya 300 ribu m3 per tahun. Ini relatif sangat kecil dibanding total kebutuhan impor Jepang yang mencapai 8.64 juta m3 per tahun. Pada 2002 ekspor kayu gergajian hanya sekitar 392.440 m3. "Jika kayu gergajian diolah di dalam negeri akan lebih menyerap tenaga kerja dan lebih menguntungkan," ujarnya.

Selain itu pemerintah mengharapkan penyelundupan kayu gergajian yang selama ini terjadi dapat dihentikan. Sebelumnya, menurut Transtoto, penyelundupan kayu gergajian marak terjadi di Indonesia.

Dia mencontohkan, pada 2002 ekspor kayu gergajian ke Cina sebesar 336 ribu meter kubik, tapi Cina mengaku telah mengimpor 1.2 juta meter kubik kayu gergajian secara resmi dari Indonesia. "Hampir 90 persen adalah kayu selundupan," tambah Transtoto.

Produk ekspor kayu olahan terbesar Indonesia, menurut Transtoto, bukan berupa kayu gergajian. Produk kayu olahan yang menjadi andalan di masa mendatang adalah produk pulp and paper. Ekspor plywood ke Jepang mencapai 2.24 juta m3 per tahun dibanding total impor Jepang sebesar 4.57 juta m3 per tahun.

Sebelumnya pemerintah juga pernah mengeluarkan kebijakan pengetatan produksi kayu bulat. Kebijakan ini justru meningkaykan devisa negara dari produk kehutanan. Angka Devisa pada 2001 sebesar US $ 4.873. Selanjutnya angka ini mengalami peningkatan menjadi US$ 5.819 (2002), US $ 6.318 (2003) dan pada 2004 diperkirakan mencapai US$ 7.726 milyar.

Mawar Kusuma - Tempo






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: