Menteri Perdagangan Diminta Tetapkan Pajak Permanen Ekspor

Kamis, 21 Oktober 2004 | 11:05 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Menteri Perdagangan Mari E. Pangestu diminta menetapkan pajak permanen bagi komoditi ekspor, agar ada kepastian biaya perdagangan antara negara. "Yang sering menimbulkan kehawatiran bagi eksportir yaitu status pajak ekspor yang yang belum permanen dan selalu berubah-ubah," kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Derom kepada Tempo di Jakarta, (21/10).

Dengan perubahan yang sering terjadi dalam pajak ekspor, menurut Derom, harga komoditi yang diperdagangkan menjadi fluktuatif. Akibatnya para pelaku usaha harus menghitung ulang harga di pasaran setiap ada perubahan. Tidak jarang konsumen dari negara tujuan mengajukan komplain atas perubahan harga ini dan harus dilakukan negoisasi kembali yang memperpanjang waktu transaksi.

Untuk ekspor minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) saat ini, Derom mengatakan pajaknya sebesar 3 persen. Dalam beberapa tahun terakhir sering terjadi perubahan besarnya pajak tadi. Menurutnya perubahan nilai pajak berkisar 3 sampai 7 persen. Bahkan beberapa waktu yang lalu pemerintah hendak menaikkan hingga 10 persen namun urung diputuskan karena adanya penolakan dari dunia usaha.

Selain penetapan pajak permanen, Derom juga berharap Menteri Perdagangan bisa melakukan terobosan agar posisi minyak kelapa sawit bisa setara dengan minyak kedelai di pasaran internasional khususnya negara-negara tujuan utama ekspor seperti India dan Cina. "Kami berharap menteri perdagangan yang baru bisa mencari solusinya," kata Derom.

Berkaitan dengan hal ini, Derom juga berharap kepada Menteri Pertanian yang baru Anton Aprianto bisa membawa citra yang baik bagi industri kelapa sawit. Sebab dalam beberapa tahun terakhir seiring tumbuh pesatnya industri kelapa sawit banyak kalangan terutama negara maju menganggap industri ini berbahaya bagi lingkungan. "Oleh karena itu kami berharap bisa membawa citra yang baik di dunia internasional dengan dilakukannya sustainable palm oil (keberlangsungan minyak sawit)," katanya.

Muchamad Nafi - Tempo






Komentar Anda

Kirim