Menteri Pertanian Tekankan Perlunya Kebijakan Proteksi

Kamis, 21 Oktober 2004 | 17:41 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Menteri Pertanian Anton Apriantono menekankan tentang perlunya kebijakan proteksi untuk melindungi petani. "Kita akan cegah liberalisasi perdagangan dunia yang terlalu cepat dan banyak merugikan negara berkembang," ujarnya dalam acara serah terima jabatan dari mantan Menteri Pertanian Bungaran Saragih.

Proteksi, menurut Anton, dapat berupa penetapan tarif impor, penetapan mekanisme perizinan dan pembatasan impor. Anton mengaku telah membicarakan penetapan tarif impor dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Kebijakan ini terkait dengan instansi lain, jadi perlu pembicaraan lebih lanjut," tambah Anton.

Pemerintah juga akan terus memberikan subsidi untuk peningkatan kesejahteraan petani. "Tidak hanya berbentuk uang, tapi juga perbaikan infrastruktur," jelasnya.

Pada dasarnya, pemerintah menyerahkan kebijakan harga pada mekanisme pasar. "Tapi ada usaha pemerintah untuk menstabilkan harga," tambahnya. Karenanya kontrol tetap akan dilakukan. "Jangan sampai petani bangkrut karena impor," ujar Anton.

Sebelum mengakiri masa jabatannya, Bungaran juga meminta pemerintah baru untuk memprioritaskan kebijakan proteksi dan promosi. "Dengan kebijakan ini pertanian dapat tumbuh 3-5 persen," ujar Bungaran.

Jika pertumbuhan tersebut dapat tercapai, dalam sepuluh tahun dipastikan kemiskinan dapat diberantas dan ketahanan pangan tercapai. "Asalkan ada konsisten growth," tambah Bungaran.

Tahun ini pertumbuhan pertanian telah mencapai 3 persen. Padahal pada akhir Orde Baru pertumbuhan hanya 1,5 persen. "Selama empat tahun, pemerintah berhasil melepaskan pertanian dari pertumbuhan rendah masuk pada percepatan pertumbuhan, dan siap untuk pertumbuhan berkelanjutan," tandasnya.

Kemajuan sektor pertanian, menurut Bungaran, sangat bergantung pada kebijakan proteksi dan promosi. Selama ini petani sangat dirugikan dengan adanya kebijakan negara lain seperti perdagangan bebas yang cenderung tidak adil. "Tanpa proteksi akan sulit meningkatkan produksi dan produktivitas," lanjut Bungaran.

Mawar Kusuma - Tempo

TOPIK






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: