Bank Niaga Bukukan Laba Bersih Rp 435 Miliar

Selasa, 26 Oktober 2004 | 12:53 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: PT Bank Niaga Tbk membukukan laba bersih Rp 435 miliar hingga akhir September 2004. Kenaikan laba ini disebabkan kenaikan pendapat bunga bersih yang mencapai Rp 1,1 triliun hingga akhir September 2004 dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp 746 miliar.

Direktur Bank Niaga Peter B Stok mengatakan, naiknya pendapat bunga bersih ini disebabkan turunnya bunga deposito yang mencapai 37,17 persen. "Target akhir tahun kami sekitar Rp 460 miliar, kemungkinan bisa tercapai," kata dia dalam paparan publik di Graha Niaga Jakarta, Selasa (26/10). "Kalau kondisi ekonomi makro mendukung Rp 500 miliar selama setahun bisa tercapai."

Peter mengatakan, hingga akhir September ini Bank Niaga juga telah memberikan kredit Rp 18,7 triliun. Sedangkan rasio kredit macet atau Non Performing Loan (NPL) mencapai 3,31 persen, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. "Untuk menjaga kualitas kredit kami tidak akan menambahkan target kredit hingga akhir tahun, yaitu Rp 19 triliun," katanya.

Bank Niaga memberikan porto polio kredit terbesar kepada perusahaan atau korporat (34 persen). Sedangkan kredit lainnya disalurkan untuk sektor konsumer (27 persen) dan bisnis (39 persen). Peter mengatakan, Bank Niaga akan meningkatkan porto polio kredit konsumer dan bisnis. "Kedepan kredit korporat tidak akan lebih dari 30 persen," katanya.

Bank Niaga sampai akhir September 2003 dimiliki oleh Commerce Asset Holding Berhad (52,82 persen), pemerintah yang diwakili PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) sebesar 21,53 persen, serta saham publik 25,65 persen. Total saham yang beredar mencapai 7,8 miliar lembar saham. Sedangkan harga saham Bank Niaga di Bursa Efek Jakarta hingga saat ini mencapai Rp 330 perlembar saham. Harga ini terhitung setelah pemecahan saham (stock split) 10:1 pada Mei 2004 lalu.

Rencananya manajemen Niaga akan menerbitkan saham baru (right issue) pada akhir kuartal pertama 2005. Namun rencana itu urung karena tidak disetujui PPA yang tidak menghendaki persentase sahamnya berkurang (terdilusi).

Sebelumnya Direktur Utama PPA Mohammad Syahrial mengatakan, PPA mempersilahkan Bank Niaga menerbitkan saham baru asal membayar efek dilusi. Rupanya tidak terjadi kesepakatan untuk menerbitkan saham baru sehingga kini manajemen Bank Niaga akan menerbitkan obligasi sub ordinasi (sub debt) sebesar Rp 600-Rp 800 miliar.

Yandi MR - Tempo






Komentar Anda

Kirim