Arus Pengiriman Barang Indonesia Meningkat

Rabu, 27 Oktober 2004 | 05:52 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Arus pengiriman dalam perdagangan Indonesia mengalami kenaikan cukup signifikan. Hal ini berdasar pada tingkat pertumbuhan pengiriman barang baik ke luar maupun ke dalam Indonesia oleh penyedia jasa pengiriman ekspres DHL.

Menurut Senior Tehnikal Advisor DHL, Alan Cazzel, pertumbuhan pengiriman barang Indonesia naik sebesar 44 persen. Kenaikan ini dipicu dengan semakin membaiknya tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Ini bertimbal-balik dengan tingkat layanan yang kami berikan, sehingga terjadi pertumbuhan yang signifikan di kawasan Asia Pasifik termasuk Indonesia," kata Alan di Jakarta, Selasa (26/10).

Selain Indonesia, beberapa negara Asia Pasifik juga mengalami pertumbuhan yang pesat. Data DHL menyebutkan pengiriman barang ke dan dari Cina naik sebesar 62 persen selama kuartal ketiga tahun ini. Demikian juga beberapa negara Asia seperti Thailand yang mengalami peningkatan sebesar 22 persen dan Malaysia sebesar 11 persen.

Secara umum, Alan menyatakan, kawasan Asia Pasifik merupakan kawasan yang memberi kontribusi terbesar untuk sektor pendapatan maupun volume pengiriman DHL. "Ini dikarenakan kawasan Asia Pasifik selalu memperlihatkan gerak pertumbuhan yang menggembirakan," jelas Alan.

Sementara Manajer Komunikasi DHL Edi Prayitno menyatakan, dari jumlah 44 persen, pengiriman barang terbanyak adalah untuk ekspor. Sedangkan jenis komoditi yang dikirimkan didominasi oleh tekstil. "Selain itu juga ada garmen, kulit, beberapa aksesoris garmen," ujarnya.

Dalam bulan puasa ini tidak terjadi lonjakan pengiriman barang. Demikian juga pada masa lebaran nanti. Menurutnya, ini dipicu perayaan lebaran hanya terjadi di kawasan Melayu saja.

Namun demikian, dia mengakui adanya masa lebaran mengakibatkan percepatan jadwal pengiriman. Atau kalau tidak, kata Edi, beberapa pengiriman akan ditunda setelah masa libur lebaran.

"Kita sudah memahami budaya di sini sehingga biasanya kita memajukan jadwal akibat masa liburan karena perusahaan-perusahaan tutup," jelasnya.

Muhammad Nafi - Tempo






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: