Pemerintah Butuh Biaya, Saham Danamon Dijual

Kamis, 04 November 2004 | 02:15 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah lewat PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA), akan menjual sisa sahamnya di PT Bank Danamon Indonesia Tbk. Untuk itu, sejak kemarin, menurut Direktur Utama PPA Mohammad Syahrial, sudah mulai melakukan penawaran terbatas saham Bank Danamon.

Menurut Syahrial, Menteri Keuangan Jusuf Anwar sudah memberikan izin penjualan saham-saham minoritas pemerintah di sejumlah bank. "Kami akan lepas Bank Danamon dulu, maksimal sampai 10 persen," kata Syahrial di Jakarta kemarin.

Saham Bank Danamon dilepas lebih dulu dibandingkan saham bank lainnya, menurut Syahrial, karena dari segi harga--berdasarkan nilai buku--saham bank itu lebih tinggi. "Saat ini harga Bank Danamon 2,3 kali dari nilai buku. Sedangkan bank-bank lain sekitar 1,8 kali nilai buku," kata bekas Deputi Kepala BPPN itu.

Dari sisi kinerja, Bank Danamon juga lebih baik karena berhasil membukukan laba yang cukup besar. Bank Danamon berhasil membukukan laba bersih sekitar Rp 1,7 triliun. Selain itu, saat ini waktu penjualan sangat tepat. "Indeks di bursa saham lagi bagus sekali. Kalau menunggu lagi, malah kurang bagus," katanya.

Sebagai catatan, pemerintah masih memiliki saham di BCA (5,04 persen), Bank Danamon (20,50 persen), Bank Niaga (21,52 persen), BII (20,78 persen), Bank Lippo (2,64 persen), BTPN (28,39 persen), May Bank (6,08 persen), dan Bank Panin (0,0005 persen). Penjualam saham minoritas merupakan program pemerintah untuk menutup defisit APBN 2004.

Menteri Keuangan Jusuf Anwar dalam siaran pers menyatakan, penjualan saham Bank Danamon dilakukan untuk mengamankan APBN 2004. Penjualan saham dilakukan, karena beberapa target pos pembiayaan yang antara lain berasal dari program privatisasi tidak tercapai. Selain itu, penjualan juga dilakukan karena harus menutup beberapa pos belanja yang naik karena meningkatnya subsidi BBM akibat melonjaknya harga minyak bumi.

Menurut Menteri, dari 20,5 persen saham yang dimiliki pemerintah, yang akan dilepas sebanyak 10 persen. Sehingga dengan 10,5 persen saham yang masih ada, pemerintah masih bisa melakukan fungsi kontrol terhadap Bank Danamon.

Harga jualnya, menurut Syahrial, tergantung bookbuilding (pembentukan harga) nanti. Namun, Menteri Jusuf sudah memberikan harga dasar ke PPA untuk digunakan sebagai alat menetapkan pembeli yang memenuhi syarat.

Penjualan saham, menurut Syahrial, akan dilakukan dengan pola penawaran terbatas (private placement kepada investor institusional dalam dan luar negeri. Proses pembentukan harga mulai dilakukan Kamis (4/10). Penutupan penjualan akan dilakukan pada hari Jumat (5/10). Untuk itu, PPA meminta bursa efek untuk menghentikan sementara perdagangan saham (suspensi) hari ini. "Supaya prosesnya berjalan transparan," ujarnya.

Analis perbankan dari Equity and Wealth Management BNI Fendi Susiyanto menyayangkan langkah pemerintah menjual saham minoritas bank tersebut. Menurutnya, pemerintah harusnya mempertimbangkan kepentingan lain selain sekedar mengejar setoran APBN.

Kepentingan yang dimaksud adalah masalah good corporate governance di Bank Danamon. Karena bisa saja saham yang dijual tersebut kembali dikuasai Temasek sehingga akan terjadi kepemilikan mayoritas tunggal di Bank Danamon. "Karena polanya private placement bukan market placement. Temasek berpeluang besar membeli lagi, jika mereka dapat dari pasar lagi maka bisa saja sampai 70 persen saham," katanya.

Sebagai pemegang mayoritas tunggal, mereka bisa saja melakukan arah kebijakan yang bertujuan hanya menguntungkan mereka tanpa bisa dicegah pemegang saham minoritas. "Ini akan mengancam good corporate governance bank tersebut."

Kepala Riset PT Kuo Capital Raharja Edwin A. Sinaga memperkirakan saham bank itu bakal terserap pasar. "Asalkan, harga yang ditawarkan cukup menarik dan kompetitif," katanya.

Menurut Edwin, penjualan saham Bank Danamon bisa membawa sentimen positif dan negatif bagi kinerja sahamnya di pasar modal. Dampak positif, harga saham bisa naik bila peminat divestasi saham Bank Danamon banyak. Sedangkan dampak negatifnya, pelaku pasar akan menekan harga saham Bank Danamon agar harga divestasi bisa menjadi murah. Pada transaksi kemarin harga saham Bank Danamon turun 1,38 persen (Rp 50) dari Rp 3.625 menjadi Rp 3.575 per saham saat rumor divestasi merebak di pasar.

Sam Cahyadi/Muchtar Wijaya






Komentar Anda

Kirim