SBY Incar Miliaran Dolar dari APEC

Sabtu, 20 November 2004 | 12:59 WIB

TEMPO Interaktif, Vancouver: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengharapkan kunjungannya ke pertemuan puncak Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) akan menghasilkan aliran investasi bernilai puluhan miliar dolar AS. Harapan ini diungkapkan Kepala Negara saat memberikan briefing kepada anggota delegasi Republik Indonesia di pesawat yang sedang terbang menuju Santiago, Cile, Selasa siang.

"Saya akan melakukan 12 pertemuan bilateral dengan para pemimpin negara APEC," kata Presiden, seperti dilaporkan wartawan Tempo Bambang Harymurti yang ikut dalam rombongan Presiden. "Saya hanya menyiapkan dua sampai tiga agenda terpilih pada setiap pertemuan tersebut agar hasilnya lebih efektif."

Ia melanjutkan, "Harapan saya, setiap pertemuan itu dapat menghasilkan investasi satu sampai dua miliar dolar AS."

Kedua belas pertemuan bilateral yang dimaksudkan adalah dengan pemimpin Amerika Serikat, Jepang, Cina, Korea Selatan, Vietnam, Malaysia, Thailand, Australia, Selandia Baru, Rusia, Kanada, dan tuan rumah pertemuan APEC, Cile.

Presiden Yudhoyono mengatakan akan mengundang investor dari negara-negara itu untuk berperan serta dalam membangun berbagai infrastruktur di Indonesia. "Misalnya dalam rencana membangun 1.500 kilometer jalan tol dalam lima tahun ke depan," katanya. Ini rencana yang diakui Kepala Negara cukup signifikan karena "selama pemerintahan Orde Baru saja hanya dibangun jalan tol sepanjang 700 kilometer".

Untuk menyiapkan berbagai agenda itu, Menteri Koordinator Perekonomian Aburizal Bakrie bersama Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dan Menteri Luar Negeri Nur Hassan Wirajuda telah berada di Santiago mendahului kedatangan rombongan Presiden. Sedangkan anggota kabinet yang turut dalam pesawat kepresidenan adalah Menteri Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro.

"Pak Pur saya ajak karena dalam pertemuan APEC ada pembahasan khusus masalah energi, yaitu Indonesia diminta menjadi jembatan antara APEC dan OPEC," kata Presiden Yudhoyono.

Saat ini kebetulan Menteri Purnomo Yusgiantoro juga sedang menjabat sebagai Presiden Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Selain itu, Kepala Negara menyatakan membutuhkan kehadiran pembantunya di bidang energi itu untuk menyiapkan dialog dengan Presiden George W. Bush. "Amerika Serikat pasti akan membicarakan soal Karaha Bodas," kata Yudhoyono.

Sengketa mengenai proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi yang dibatalkan itu harus dapat diselesaikan sebelum akhir bulan ini jika pemerintah Indonesia tak ingin kehilangan ongkos denda senilai hampir Rp 3 triliun.

Menteri Purnomo Yusgiantoro juga turut ke Santiago untuk menindaklanjuti permintaan Presiden Cile saat berkunjung ke Indonesia beberapa bulan silam tentang kemungkinan membeli gas dari Indonesia.

"Jadi kunjungan ini betul-betul kerja keras," kata Yudhoyono tentang kedua belas pertemuan bilateralnya dengan para pemimpin APEC yang berlangsung dalam empat hari itu.

Ia optimistis tujuannya memanfaatkan pertemuan APEC sebagai ajang untuk menarik investor akan berhasil. "Kalau tidak, untuk apa saya terbang 32 jam ke Santiago, lalu 32 jam lagi kembali ke Jakarta?" katanya dengan senyum di bibir.

Ia bahkan berencana mengadakan pertemuan tentang pembangunan infrastruktur nasional setibanya di Tanah Air. "Saya akan mengajak para investor, pemerintah daerah, dan pihak yang relevan lainnya untuk menyusun strategi pembangunan infrastruktur nasional lima tahun ke depan," katanya. Hasil kesepakatan itu kemudian akan disampaikan kepada publik sebagai bagian dari laporan 100 hari pemerintahannya nanti.

Strategi itu dinyatakan akan banyak mempertimbangkan kebutuhan pemerintah daerah yang "acap kali jauh lebih tahu kebutuhan masing-masing ketimbang pemerintah pusat".

Presiden dan rombongan mendarat di Santiago, Cile, kemarin pagi waktu setempat (malam WIB) setelah terbang dari Jakarta selama 34 jam. Penerbangan harus mengalami pendaratan untuk mengisi bahan bakar tiga kali, di Tokyo, Vancouver, dan Lima (Peru). Jalur penerbangan cukup panjang dari seharusnya karena jalur terdekat mesti melewati Samudra Pasifik yang luas sehingga faktor keselamatan dianggap kurang terpenuhi.

TOPIK






Komentar Anda

Kirim