Para Pemimpin APEC Sepakat untuk Kurangi Hambatan Perdagangan
Senin, 22 November 2004 | 15:20 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Para pemimpin 21 negara angora Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) yang mengakhiri pertemuan di Santiago, Minggu (21/11) sepakat untuk mengurangi hambatan-hambatan perdagangan.
Ke-21 negara ini juga sepakat untuk mendukung Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dalam melakukan liberalisasi perdagangan global.
Dalam pertemuan di Cancun, Mexico tahun lalu, 148 negara anggota WTO gagal mencapai kesepakatan, terutama berkaitan dengan penolakan negara maju untuk mengurangi subsidi pertanian ke para petaninya.
Masalah liberalisasi perdagangan ini sebenarnya sudah dibicarakan dalam pertemuan WTO do Doha, Qatar pada 2001. Namun, sampai saat ini, negara maju dan negara berkembang belum berhasil mencapai kesepakatan, terutama di sektor pertanian.
Bank Dunia memperkirakan, jika kesepakatan perdagangan itu berhasil tercapai akan membantu 140 juta orang dan menambah US$ 50 miliar bagi perekonomian global pada 2015.
Dalam pertemuan negara-negara anggota WTO pada Juli 2004 yang mendapat persetujuan dari negara-negara anggota APEC, para pemimpin 21 negara sepakat untuk tetap memelihara momentum ini. Perekonomian 21 negara anggota APEC mewakili hampir separuh perdagangan dunia.
Presiden Chili Ricardo Lagos mengatakan, setahun lalu pertemuan di Cancun mengalami kegagalan. “Dan sekarang, kami sekarang harus bergerak maju dan memandang ke depan dengan lebih optimistis,” katanya.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat George W. Bush menambahkan, negara-negara APEC harus menolak segala bentuk hambatan yang memisahkan ekonomi dan masyarakat. “Saya percaya, dengan kebijakan yang tepat, kita bisa terus melanjutkan untuk tumbuh,” katanya.
Dalam deklarasi bersama, para pemimpi 21 negara anggota APEC mengatakan bahwa negara anggota APEC sepakat untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan menjaga keamanan masyarakat.
Dalam deklarasi itu para pemimpin juga menyebutkan akan mengimplementasikan standardisasi dan mencapai persetujuan bersama melawan terorismen yang dilakukan melalui lembaga keuangan dan pencucian uang (money laundering).
Negara-negara anggota APEC juga mendeklarasikan kembali usaha-usaha melawan korupsi di sektor publik dan swasta, karena upaya ini merupakan ancaman serius bagi tata pemerintahan yang baik dan usaha-usaha untuk menarik investasi.
APEC pun akan mendukung negara-negara anggotanya yang baru seperti Rusia dan Vietnam masuk ke WTO.
Forum kerja sama ekonomi APEC yang dimulai pada 1989, tujuan awalnya adalah untuk meningkatkan perdagangan di kawasan Asia Pasifik. Namun, selama beberapa tahun terakhir----terutama sejak serangan teroris ke menara kembar World Trade Center di New York pada 11 September 2001----pertemuan APEC telah bergeser. Pertemuan itu tidak lagi membahas masalah ekonomi semata, tapi juga membahas masalah keamanan dan usaha-usaha memerangi terorisme.
Ketika beberapa pemimpin negara anggota APEC mempermasalahkan hal ini, pemimpin lainnya menekankan bahwa masalah bisnis dan keamanan kini tidak bisa dipisahkankan. Alasannya, karena terjadinya peningkatan terorisme di seluruh dunia.
APEC terdiri dari Amerika Serikat, Australia, Brunei, Chili, Cina, Filipina, Hong Kong, Indonesia, Jepang, Kanada , Korea Selatan, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Papua New Guinea, Peru, Rusia, Singapura, Taiwan, Thailand, dan Vietnam.
AP/Grace S Gandhi - Tempo





