Bintang Mitra Kaji Rencana Merger
Selasa, 23 November 2004 | 15:01 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Manajemen PT Bintang Mitra Semestaraya Tbk. tengah mengkaji rencana merger dengan dua perseroan properti lainnya, yakni PT Roda Panggon Harapan Tbk. dan PT Ristia Bintang Mahkota Sejati Tbk.
Manajemen akan melakukan kajian merger itu selama enam bulan mendatang. Upaya merger ini menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan sinergi antarperusahaan dan manajemen berharap sinergi dapat meningkatkan kinerja perusahaan yang selama tiga tahun terakhir tercatat merugi.
Ketiga perusahaan ini memiliki hubungan kepemimpinan direksi dan komisaris. Direktur Utama Roda, Richard Wiriahardja, juga menjabat juga sebagai Direktur Utama Ristia Bintang dan Komisaris Utama Bintang Mitra.
Dari sisi kepemilikan, Bintang Mitra memiliki 44 persen saham Ristia Bintang dan Ristia Bintang memiliki 74,6 persen saham Roda Panggon Harapan.
”Kami berpikir ke arah merger, tapi ini perlu dipikirkan dengan matang biar tidak berdampak negatif,” kata Richard dalam paparan publik ketiga perusahaan di Bursa Efek Jakarta.
Salah satu dampak negatif itu, menurut Richard, bila merger itu tidak dilakukan dengan hati-hati maka berakibat menurunkan kinerja perusahaan.
Menurut dia, hal-hal yang menjadi kendala merger adalah perpajakan dan perizinan, karena perizinan properti berbeda dengan perusahaan lainnya.
Berkaitan dengan kinerja perusahaan, menurut Richard, walau selama tiga tahun terakhir mengalami kerugian dia optimis tahun depan ketiga perusahaan dapat meraih keuntungan melalui beberapa aksi perusahaan. Namun, dia belum bisa menyebutkan aksi perusahaan tersebut, karena masih menunggu izin dari pemerintah. “Ya salah satunya adalah pembangunan rumah susun, sebagai ganti pembangunan rumah horizontal,” katanya.
Seperti diketahui, sejak tiga tahun terakhir, ketiga perusahaan tersebut mengalami kerugian. Roda sampai dengan kuartal ketiga tahun 2004 mencatat rugi bersih Rp 606 juta. Namun, rugi bersih ini turun sebesar 23,96 persen dibanding rugi bersih dari tahun sebelumnya, karena
adanya penghematan biaya, terutama biaya iklan dan promosi.
Sebelumnya, Roda Panggon Harapan memiliki utang senilai Rp 27 miliar dan telah mendapatkan pemotongan utang oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) , yakni untuk bunga utang 0 persen dan pemotongan pokok utang 20 persen.
Roda merupakan perusahaan yang bergerak dalam usaha pengembangan perumahan bagi masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Perusahaan ini antara telah membangun perumahan Simprug Poris di kilometer 18 Daan Mogot, Tangerang.
Sedangkan Ristia Bintang mencatat rugi rugi bersih sebesar Rp 871 juta atau mengalami penurunan 23,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Berkurangnya rugi bersih pada perusahaan tersebut, karena adanya penghematan biaya, terutama biaya penjualan. Bintang Mitra mencatat rugi bersih sebesar Rp 391 juta. Periode yang sama tahun 2003, perusahaan berhasil mencatat laba bersih Rp 95 juta.
Menurut Richard, dibandingkan perusahaan properti lainnya yang mencetak keuantungan, perusahaan ini mengalami kerugian karena segmen operasional yang berbeda. Perusahaan ini bergerak di industri perumahan menengah kebawah dengan daya beli masyarakat yang
rendah. Sedangkan tren perusahaan yang mengalami keuntungan didapatkan perseroan yang begerak di bidang shopping centre dan apartemen.
Menurut dia, kebijakan pemerintah salah satu penyebab tidak kondusifnya usaha perumahan menengah ke bawah seperti rencana kebijakan pembangunan satu juta rumah yang sampai saat ini belum direalisasikan pemerintah. Padahal, pembangunan satu juta rumah ini dapat
mendongkarak usaha perumahan menengah ke bawah.
Selain itu, perhatian terhadap pembangunan rumah menengah ke bawah masih sangat minim.Real Estate Indonesia sangat tidak mendukung program rumah murah buat rakyat, hanya fokus untuk apartemen dan shopping centre saja.
Direktur Utama Bintang Mitra Lukman Purnomosidi mengatakan, perusahaan menunggu langkah konkret pemerintah dalam pembiayaan, infrastruktur, dan pertanahan dalam pengembangan rumah untuk menengah ke bawah.
Menurut Lukman, tahun depan permintaan terhadap perumahan kelas menengah ke bawah diperkirakan meningkat menjadi 800 ribu unit. Karena itu, perseroan optimis tahun depan kinerja perusahaan akan lebih baik.
Yuliawati/Rizki Amaliah - Tempo





