“BI Harus Tingkatkan Penggunaan Mata Uang Lain untuk Cadangan Devisa”
Senin, 29 November 2004 | 19:20 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pengamat ekonomi Goei Siauw Hong mengatakan, Bank Indonesia harus meningkatkan penggunaan mata uang lain seperti euro, selain mata uang dolar Amerika Serikat, sebagai cadangan devisa. Sebagian besar bank sentral di seluruh dunia kini mulai mengkonversi cadangan devisanya dengan mata uang euro.
Menurut dia, mata uang cadangan di seluruh dunia saat ini sebagian besar dalam bentuk dolar AS (75 persen). Sedangkan dalam bentuk mata uang euro masih sekitar 10-15 persen. “Tapi dalam 5-10 tahun ke depan, komposisi penggunaan euro akan menjadi 40 persen dan dolar AS 50 persen,” kata Siauw Hong, disela-sela seminar Prospek Ekonomi dan Politik Indonesia 2005 di Jakarta.
Meskipun dolar AS akan tetap mendominasi sebagai mata uang dalam perdagangan, tapi euro juga akan menjadi mata uang dalam perdagangan secara bertahap. “Akan terjadi pergeseran dominasi dolar ke euro sebagai devisa,” katanya.
Saat ini nilai tukar dolar AS makin lemah, karena Amerika sedang menghadapi defisit anggaran. Amerika mengalami defisit perdagangan (current account deficit sebesar 5,7 persen dari produk domestik bruto.
Selain itu, pemerintah Amerika mendepresiasikan dolarnya supaya utangnya berkurang. “Jadi, kalau semua membeli dolar akan berisiko, karena harga komoditas dalam dolar akan naik.” Apalagi, dia memperkirakan, dolar akan mengalami penurunan yang cukup signifikan terhadap mata uang lain dalam jangka waktu yang lama.
Siauw Hong mengakui, sebagian besar bank sentral dunia masih khawatir dengan pertumbuhan euro yang pelan. Mata uang masih terhambat di beberapa negara Eropa, mengingat sistem sosialis yang masih berlaku seperti insentif bagi pengangguran, pengaturan libu, serta pajak yang tinggi. Namun, sekarang Eropa menghadapi tekanan untuk lebih memproduktifkan sektor ekonominya.
Sementara itu, Deputi Gubernur BI Aslim Tadjudin mengatakan, BI sudah melakukan diversifikasi mata uang dalam bentuk dolar AS, yen, serta euro untuk cadangan devisa. Selain itu, BI juga menempatkan cadangan devisanya dalam bentuk surat berharga dan deposito.
“BI melakukan strategi dengan melakukan diversifikasi,” kata Aslim beberapa waktu lalu.
Aslim tidak menyebutkan kemungkinan akan mengubah komposisi mata uang asing untuk cadangan devisa. Namun, menurut dia, kecenderungan melemahnya dolar AS justru akan meningkatkan cadangan devisa Indonesia.
“Dengan menguatnya euro, maka nilai dalam dolar AS akan lebih besar. Kecuali, kalau Indonesia menjadikan euro sebagai base currency,” katanya.
Yandi MR - Tempo





