Melemahnya Rupiah Akibat Jelang Akhir Tahun

Kamis, 09 Desember 2004 | 11:56 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia, Miranda Goeltom, mengatakan melemahnya nilai rupiah akhir-akhir ini adalah sesuatu yang musiman, menjelang akhir tahun.

Menurut Miranda, menjelang akhir tahun banyak perusahaan yang tutup buku, banyak perusahaan yang ingin membayar utang kembali yang jatuh tempo. Disamping itu juga, menjelang akhir tahun banyak permintaan mata uang dolar untuk membeli barang-barang impor. Pasalnya, setiap ada pertumbuhan ekonomi yang tinggi menyebabkan meningkatnya permintaan barang-barang impor.

Permintaan lainnya, menurut Miranda, datang dari Pertamina yang membutuhkan mata uang dolar untuk membeli minyak. "Adanya suplai yang tidak mencukupi untuk tingkat demand yang tinggi menyebabkan nilai tukar rupiah melemah," kata Miranda kepada wartawan hari ini, Kamis (9/12) di Jakarta.

Seperti diberitakan hari ini, nilai tukar rupiah dan indeks saham di Jakarta pada transaksi hari Rabu (8/12) sama-sama anjlok. Kurs rupiah ditutup melemah 105 poin dari Rp 9.085 menjadi Rp 9.190 per dolar AS. Begitu pula indeks saham di Bursa Efekk Jakarta yang terkoreksi 7,190 poin (0,73 persen) menjadi 979,220 ditengah investor asing masih membutuhkan nilai bersih Rp 655,03 miliar.

Miranda memperkirakan awal Januari, rupiah akan menguat lagi, karena permintaan akan mata uang dolar untuk membayar beban-beban diakhir tahun sudah berkurang. "Tapi lebih baik tidak mengatakan sesuatu yang belum pasti," katanya.

Erwin Dariyanto






Komentar Anda

Kirim