Astra Graphia Masuk ke Pasar Regional
Selasa, 14 Desember 2004 | 19:47 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:SAT merupakan perusahaan hasil bentukan Astra Graphia dan Singapore Computer System Limited (SCS), perusahaan teknologi informatika dari Singapura. Kepemilikan Astra Graphia di perusahaan itu mencapai 49 persen dan SCS sebesar 51 persen dengan total dana pembentukan perusahaan Rp 77 miliar.
Setelah dibeli SCS beberapa waktu lalu, perseroan mengalihkan seluruh bisnis, sumber daya manusia, dan asetnya dari divisi teknologi informasi Astra Graphia ke perusahaan yang baru itu. Dengan pembentukan SAT ini, maka Astra Graphia kini hanya memiliki satu divisi perusahaan di bidang solusi dokumen saja yang akan difokuskan ke pasar domestik.
Direktur Astra Graphia Santosa, tahun depan akan terjadi pertumbuhan yang lebih signifikan dibandingkan tahun ini.
“SAT telah memiliki proyek di tangan pada 2005 sebanyak 70 proyek dengan nilai US$ 18 juta,” kata Santosa dalam paparan publik di Jakarta. Perusahaan memperkirakan, total akan mendapatkan proyek senilai US$ 40-45 juta.
Sementara itu, sampai dengan September 2004, perseroan telah membukukan laba bersih sebesar Rp 23,6 miliar atau turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 37,6 miliar.
Penurunan itu karena beban utang obligasi yang membengkak sebesar Rp 6,9 miliar. Sampai dengan periode September 2004, perseroan memiliki kewajiban membayar utang obligasi Rp 15 miliar. Bandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, utang obligasi yang harus dibayar Rp 8,1 miliar.
Bunga obligasi merupakan konsekuensi dari penerbitan obligasi perusahaan sebesar Rp 150 miliar pada 2003. Dengan penerbitan obligasi, perseroan memiliki kewajiban membayar bunga Rp 20 miliar per tahun. Penerbitan obligasi ini untuk menggantikan utang perseroan dalam bentuk mata uang asing US$ 27 juta.
Santosa menjelaskan, sampai dengan September 2004 SAT masih mengalami kerugian sebesar Rp 1,9 miliar. Sedangkan divisi teknologi informatika pada periode yang sama tahun lalu mengalami kerugian Rp 4,3 miliar.
Menurut dia, kerugian divisi teknologi informatika selama sembilan bulan pertama tahun ini sebagai hal yang biasa. Dalam proyek teknologi informatika, pendapatan baru diperoleh setelah proyek selesai, biasanya pada akhir tahun.
”Proyek membutuhkan waktu 3-9 bulan, sehingga selama sembilan bulan pertama mengalami kerugian, tapi di akhir tahun akan meningkat,” katanya. “Sepanjang tahun lalu perseroan membukukan keuntungan dari divisi teknologi informatika sebesar Rp 3,5 miliar.”
Dengan keuntungan yang diperoleh perusahaan, manajemen Astra Graphia, berencana memberikan dividen interim secara tunai sebesar Rp 17 per saham pekan depan. Jumlah ini merupakan 100 persen dari nilai laba per saham dari perseroan.
Yuliawati - Tempo





