Pertumbuhan Bursa Indonesia Tertinggi Di Asia

Kamis, 30 Desember 2004 | 19:17 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Dalam laporan kinerja sepanjang 2004, bursa efek Indonesia menujukkan pertumbuhan paling tinggi di Asia. Tercatat, IHSG pada akhir perdagangan 30 Desember 2004 ditutup pada posisi 1004,43 poin, meningkat 44,93 persen dibandingkan 29 Desember 2004 yang berada di posisi 693,033. "Bila dibandingkan dengan beberapa negara tetangga, kenaikan ini merupakan yang tertinggi,"tutur Erry Firmansyah, Direktur utama BEJ, dalam konperensi pers akhir tahun di Gedung BEJ, Kamis (30/12).

Pada periode yang sama bursa efek Hongkong tumbuh 14,46 persen, Singapura tumbuh 18,20 persen, Malaysia tumbuh 15,20 persen, Jepang tumbuh 8,39 persen, Dow Jones tumbuh 3,87 persen. Sedangkan bursa Thailand turun 11,03 persen, dan Filipina turun 20,43 persen.

Namun, berdasarkan paparan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) perdagangan bursa sepanjang 2004 masih didominasi investor asing. Berdasarkan data sampai akhir Desember 2004 tercatat 77 persen atau 297.966 investor di pasar saham merupakan investor asing. Sedangkan sisanya, 23 persen, sebanyak 89.779 investor di pasar saham merupakan investor lokal. "Sebagian besar investor asing yang berperan dalam transaksi saham melalui bank kustodian international," tutur Benny Haryanto, Ketua KSEI, di tempat yang sama.

Benny mengatakan jumlah investor lokal sebenarnya meningkat dari 2003 sebanyak 70.000 investor menjadi 90.000 investor. Dan menurut Erry jumlah ini tidak mencerminkan investor lokal, karena banyak investor lokal yang tidak membuka rekening untuk menghindari NPWP.

Namun, apabila melihat perkembangan pasar obligasi, sebanyak 97 persen atau 55.423 investor lokal, sedangkan 3 persen atau 1.685 merupakan investor asing. Melihat perkembangan bursa, Erry optimis akan dicapai perkembangan yang lebih baik di 2005. Masih ada ruang bagi perkembangan pasar," katanya.

Selama 2004, menurut Benny, terjadi kenaikan 634 persen untuk nilai penyelesaian transaksi dalam periode 2000-2004. Pada 2000 rata-rata nilai transaski penyelesaian sebesar Rp 8,244 miliar dan pada 2004 sebesar Rp 60,520 miliar.

Sementara itu, nilai kapitalisasi pasar menurut data BEJ meningkat 48,3 persen, yakni dari Rp 460 triliun pada akhir 2004 menjadi Rp 683 trilliun pada 29 Desember 2004. Adapun total nilai transaksi meningkat 96,33 persen. Dari nilai transaksi 2003 sebesar Rp 125,4 triliun menjadi Rp 246,2 triliun. Sementara itu, nilai transaksi harian meningkat 97,9 persen, dari Rp 518 miliar pada 2003 menjadi Rp 1,03 trilliun pada 2004.

Sedangkan, Price Eraning Ratio (PER) pada 29 Desember 2004, menunjukkan sebesar 10,77 kali. PER ini lebih kecil bila dibandingkan negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura, yang menunjukkan angka 16 kali.

Sepanjang 2004, tercatat 12 emiten baru di BEJ dengan total dana hasil penawaran umum sebesar Rp 2,14 triliun. Sedangkan jumlah emiten yang dikenai delisting 14 emiten.

Yuliawati






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: