|
Ekonomi
Paris Club Setuju Bahas Soal Moratorium Utang Negara Korban Tsunami
Senin, 10 Januari 2005 | 13:18 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Menteri Keuangan Perancis Herve Gaymard mengatakan, negara-negara kreditor yang tergabung dalam Paris Club setuju untuk membahas soal moratorium (penundaan pembayaran) utang negara-negara yang terkena bencana tsunami.
Paris Club akan mengadakan pertemuan di Paris, Rabu (12/1). “Kami akan mengusulkan soal moratorium ini. Negara-negara yang tergabung dalam Paris Club sudah setuju untuk membahas soal ini,” kata Gaymard.
Gaymard mengatakan, penundaan pembayaran untuk negara seperti Indonesia pada 2005 bisa memberi tambahan sumber (dana) untuk rehabilitisasi dan rekonstruksi daerah yang terkena bencana.
Sementara itu, sumber yang dekat dengan Paris Club mengatakan, pemberian moratorium itu akan sangat berguna bagi Sri Lanka dan Indonesia. Kedua negara ini merupakan negara-negara yang paling parah ketika gempa dan tsunami melanda kawasan Asia pada 26 Desember 2004 lalu.
Sumber itu juga menambahkan, tampaknya Paris Club setuju untuk menunda pembayaran atau membekukan sementara tapi tidak untuk menghapuskan utang-utang tersebut.
Presiden Uni Eropa, yang juga Perdana Menteri Luxembourg Jean-Claude Juncker mendukung langkah-langkah untuk memberikan pengurangan utang kepada negara-negara yang terkena tsunami. “Secara pribadi, saya setuju negara-negara ini diberi keringanan,” katanya.
Indonesia berharap akan memperoleh keringanan pembayaran utang tanpa persyaratan tertentu. Berdasarkan catatan Bank Dunia, pemerintah Indonesia memiliki utang US$ 132 miliar (sekitar Rp 1.214,4 triliun), sebesar US$ 70 miliar (sekitar Rp 644 triliun) merupakan utang Indonesia kepada kreditor publik.
Paris Club beranggotakan Austria, Australia, Amerika Serikat, Belgia, Belanda, Denmark, Finlandia, Inggris, Irlandia, Italia, Jepang, Jerman, Norwegia, Perancis, Rusia, Spanyol, Swedia, dan Swiss.
Namun, pengamat memperingatkan, keringanan pembayaran utang itu akan menjadi counter productive khususnya bagi Indonesia, karena akan menurunkan peringkat utang negara itu. Penurunan peringkat utang ini akan membuat investor asing khawatir.
AFP/Grace
INDEKS BERITA LAINNYA :
|