SBI Jadi Alat Utama Ukur Kebijakan Moneter
Senin, 10 Januari 2005 | 20:50 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Bank Indonesia (BI) akan menggunakan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) sebagai alat ukur kebijakan moneter pada pertengahan tahun ini.
Penggunaan SBI sebagai alat ukur sudah dilakukan sejak tahun lalu secara bertahap bersama alat ukur utama, yakni uang primer.
Direktur Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter, Halim Alamsyah mengatakan jangkar kebijakan moneter BI selama ini adalah uang primer yang terdiri dari uang kartal dan cadangan yang ada di bank.
Namun, tambahnya, statistik uang primer ini sulit dipahami masyarakat, kecuali ahlinya. "Sinyalnya tidak begitu jelas dimengerti masyarakat kecuali oleh pakar. Kalau suku bunga lebih jelas. Maunya BI kemana jelas," katanya di gedung BI, Jakarta, Senin (10/1).
Halim mengatakan sekitar 80 persen uang primer bentuknya uang kartal yang digunakan untuk transaksi. Dia menjelaskan, bank sentral sulit mengendalikan uang kartal ketika musim lebaran, natal atau tahun baru. "Pengalaman kami, mengendalikan 80 persen uang kartal itu sulit," katanya.
Selain itu, lanjut Halim, standar suku bunga ini sudah menjadi rujukan di sektor lain, misalnya pasar modal.
Pelaku pasar modal, lanjutnya, menghitung keuntungan berinvestasi di deposito, reksadana atau SBI dengan menghitung perbedaan suku bunga. "Mereka mungkin sudah tidak menghitung uang primer tapi perbedaan suku bunganya."
Pemakaian jangkar kebijakan moneter ini akan secara resmi digunakan pada pertengahan tahun 2005. Selama tahun lalu, lanjut Halim, BI juga secara bertahap menggunakan SBI sebagai salah satu jangkar kebijakan moneter bersama uang primer. "Persiapannya sudah cukup, masa pembelajaran baik BI atau sisi pasarnya juga sudah memadai."





