Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ekonomi dan Bisnis

Tahun Depan PLN Masih Merugi
Selasa, 11 Januari 2005 | 02:09 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Neraca PT Perusahaan Listrik Negara tahun depan masih merugi karena masih menggunakan tarif listrik yang lama.

Kerugian tersebut masuk dalam usulan Rencana Kerja Anggaran Perusahaan tahun ini. Rencananya dalam Rapat Umum Pemegang Saham pada pertengahan Januari tahun ini RKAP tersebut akan disampaikan.

"Pengajuan RKAP-nya masih rugi," kata Eddie Widiono, Direktur Utama PT. Perusahaan Listrik Negara di Jakarta Senin (10/1).

Rencana anggaran tahun ini masih merugi karena ada petunjuk dari pemerintah agar tetap menggunakan tarif lama. "Sebelum kenaikan tarif diputuskan oleh departemen teknis maka didalam rencana kerja kami jangan memasukkan tarif baru, tentu PLN akan menjadi rugi," tandasnya.

Eddie menambahkan, kerugian PLN selama ini tidak seluruhnya ada dalam kontrol kemampuan manajemen. "Ada yang berada di bawah kontrol manajemen dan tidak,"tandas Eddie

Dia menjelaskan, biaya yang berkaitan dengan kenaikan atau penurunan harga Bahan Bakar Minyak dan batu bara, pajak serta tarif merupakan keputusan dari pemerintah. "Jadi dapat saja dibikin neracanya laba selama input cost-nya kami asumsikan ditekan dan tarifnya naik. Tapi apakah hal itu akan terjadi atau tidak itu bukan kewenangan manajemen," katanya.

Disamping itu, lanjutnya, dengan terjadinya bencana tsunami di Aceh, PLN telah mengalami kerugian luar biasa. "Dan ini harus di-declare dong," tandasnya.

Berdasarkan catatan Tempo, PLN mentargetkan penerimaan sedikitnya Rp 54 triliun tahun lalu. Dengan tarif dasar listrik rata-rata Rp 600 per kWh, tanpa kenaikan, diyakini target penerimaan itu bisa tercapai.

Pendapatan tersebut berasal dari penjualan kilowatthour (kWh) listrik yang mencapai 90 miliar kWh, dari volume produksi yang direncanakan sekitar 100 miliar kWh.

Itu belum termasuk pendapatan dari biaya beban atau penyambungan tenaga listrik. Pemasukan di luar penjualan listrik memang tidak banyak memberikan kontribusi bagi penerimaan perusahaan, hanya sekitar dua persen atau rata-rata sekitar Rp 1-2 triliun.

Diperkirakan, perseroan juga akan memperoleh pendapatan tambahan sebesar Rp 2,5 trilun dari 1,5 juta pelanggan baru.

Tahun 2003 PLN merugi sekitar Rp 6,63 triliun.
Dari pendapatan sekitar Rp 58,68 triliun (dari penjualan listrik Rp 52 triliun), harus dipotong biaya produksi sekitar Rp 65,31 triliun. Sedangkan tahun 2002, PLN membukukan pendapatan Rp 44 triliun (dari penjualan listrik Rp 39 triliun), tetapi biaya produksinya mencapai Rp 52 triliun. Sehingga perusahaan masih merugi sekitar Rp 6 triliun. (muhamad fasabeni)



INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

PLN Kendari Rugi Rp 90 Miliar
22 Ahli dan Spare Parts Listrik Dari Bekasi untuk Aceh
Dirut PLN : Meulaboh dan Banda Aceh Paling Parah
Besi Penyangga Tower PLN Kembali Dicuri


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [1]


Berita Terakhir

Hong Kong Wajibkan Label Produk Impor
DPR akan Bertemu Pimpinan KPK
Subsidi Pertanian 2009 Bakal Naik
Keluarga Yakin Jika Nanik Dibunuh Ryan
Djoko Suprapto Masih Jalani Pemeriksaan

<< January,2005>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data