|
Ekonomi dan Bisnis
Pemegang Obligasi Barito Segera Rapat
Rabu, 12 Januari 2005 | 05:56 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemegang obligasi Barito Pacific Timber I tahun 2002 akan segera mengadakan rapat umum pemegang obligasi, bila PT Barito Pacific Timber Tbk. sebagai penerbit obligasi belum dapat memberikan kejelasan soal pembayaran bunga obligasi.
Pemegang obligasi diwakili wali amanat Bank Niaga, memberikan waktu selama 14 hari, terhitung jatuh tempo pembayaran bunga obligasi.
”Dalam perjanjian wali amanat dengan emiten, bila dalam waktu 14 hari sejak jatuh tempo pembayaran bunga obligasi emiten tidak mampu melakukan perbaikan kinerja, kami akan mengadakan rapat,” kata Teddy Punu, Presiden Direktur Investor Services Group PT Bank Niaga Tbk. saat dihubungi Tempo.
Namun sebelum mengadakan rapat, para pemegang obligasi, manajemen emiten, dan wali amanat akan melakukan pertemuan informal dulu. “Setelah diadakan pertemuan informal bersama, bila keputusannya harus mengadakan rapat umum pemegang obligasi, seminggu setelah itu baru diadakan rapat,” katanya.
Menurut Teddy, dalam pertemuan antara wali amanat, emiten, dan Bursa Efek Surabaya, emiten menjelaskan ada berbagai persoalan yang menjadi kendala pembayaran bunga obligasi seperti permintaan akhir tahun atas kayu lapis yang berkurang, turunnya harga kayu lapis, serta perubahan mekanisme penjualan di mana pembeli hanya mau melakukan pembayaran disaat barang sudah di terima.
”Menurut emiten, biasanya dalam prosedur penjualan, pembeli mau membayar bila LC (letter of credit) telah keluar. Tapi saat ini mitra dagang menunggu hingga barang sampai,” katanya. “Ini terjadi beberapa buan terakhir, sehingga mempengaruhi arus kas perseroan.”
Alasan yang dikemukakan emiten itu memang masuk akal, tapi pihaknya akan tetap meminta kejelasan pembayaran bunga obligasi. Apalagi, bila emiten tidak memberikan jaminan.
Dalam pertemuan tersebut, emiten meminta pembayaran bunga obligasi ditunda sampai dengan periode selanjutnya, yakni pada Juli 2005 dengan nilai Rp 66 miliar. Namun, tidak adanya jaminan yang diberikan perseroan masih menjadi pertanyaan kejelasan pembayaran obligasi.
Sebelumnya, pembayaran bunga obligasi setiap enam bulan dengan kupon bunga obligasi sebesar 16 persen selalu lancar.
Sementara itu, Humas Barito Pasific Arys Anantio mengatakan, perseroan optimis dapat membayar kewajiban.
Menurut dia, salah satu faktor paling signifikan yang mempengaruhi kinerja emiten adalah turunnya harga kayu lapis di pasar internasional. “Harga kayu lapis turun 10-30 persen, seiring illegal logging yang tidak terkendali,” katanya.
Namun, dia optimistis, kinerja emiten akan membaik dengan adanya penegakan hukum yang lebih tegas terhadap para penyelundup dan pencuri kayu. “Dengan adanya suplai yang membaik, melalui penyelesaian masalah penyelundupan ini, maka harga kayu di pasar internasional menjadi lebih kompetitif,” tambahnya.
Yuliawati - Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|