|
Ekonomi dan Bisnis
BNI dan Mandiri Siap Jadi Jangkar Akuisisi Bank
Selasa, 18 Januari 2005 | 03:54 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:PT Bank Negara Indonesia (BNI) dan PT Bank Mandiri menyatakan siapa menjadi bank jangkar (anchor akuisisi bank lain. Keduanya sudah mengantongi nama bank yang akan diambilalih.
Direktur Utama BNI Sigit Pramono mengatakan upaya pengambilalihan bank lain sudah dilakukan sejak tahun lalu. Tahun ini, lanjutnya, BNI sudah menjajaki akuisisi bank lokal. Namun, Sigit tidak menyebutkan nama bank yang akan diambil alih itu. "Yang jelas bank lokal dan sehat," katanya di sela acara Infrastructure Summit di Hotel Sangrilla, Jakarta, Senin (17/1).
BNI akan melakukan inisiatif pertumbuhan dari keuntungan perusahaan (organik) atau melalui merger dan akuisisi (anorganik). Inisiatif pola pertumbuhan ini akan mempertimbangkan aspek bisnisnya. "BNI akan tetap melakukan prakarsa tanpa didorong BI karena perlu untuk pertumbuhan".
Berbeda dengan proses merger sebelumnya, kata Sigit, percepatan konsolidasi ini diharapkan berlangsung antar yang yang sehat.
Penggabungan bank bermasalah, kata dia, akan menimbulkan masalah baru sehingga memperlambat proses konsolidasi. "Jadi untuk mendorong bank sehat melakukan merger perlu adanya insentif".
Sigit meminta proses percepatan konsolidasi bank disertai insentif berupa keringanan pajak dan kemudahan regulasi untuk mendapatkan perijinan.
Insentif dari segi perpajakan, lanjutnya, berlaku di semua negara yang mendorong bank untuk merger.
Dari sisi regulasi, Sigit juga meminta BI memudahkan perizinan. Ia mencontohkan pendirian atau penetapan bank yang diambil alih menjadi kantor cabang. "Nantinya ada beberapa bank yang harus dikonversi dan direlokasi. Jadi banyak sekali ketentuan yang harus dipermudah".
Di tempat yang sama, Direktur Utama Mandiri, ECW Neloe menegaskan Mandiri siap menjadi bank jangkar mengakuisisi bank lain. Bank Mandiri juga sudah melakukan penjajakan dengan beberapa bank lokal yang akan diakuisisi. "Bank sehat boleh, yang tidak juga tidak apa-apa. Justru itu satu tantangan, bagaimana yang tidak sehat nantinya menjadi sehat".
Menurutnya Mandiri akan tetap berupaya menjadi bank internasional sesuai Arsitektur Perbankan Indonesia (API) dengan modal minimal Rp 50 triliun. Untuk mencapai modal itu, kata Neloe, Bank Mandiri akan menempuh pertumbuhan organik dan anorganik. "Kami tetap ingin menjadi bank internasional dengan atau tanpa insentif".
Neloe berpendapat keringanan yang seharusnya diberikan BI adalah kelonggaran Batas Minimum Pemberian Kredit (BMPK). BI menetapkan BMPK untuk investasi di lembaga keuangan lainnya sebesar 10 persen. Ketentuan ini, lanjut dia, tidak sejalan dengan kebijakan yang tertuang dalam API. "Kebijakan BMPK menghambat pertumbuhan bank sesuai API".
BI, kata dia, harus merubah ketentuan BMPK kalau mau menjalankan program API. Percepatan konsolidasi melalui merger dan akuisisi akan terhambat karena pembatasan itu. "Di negara lain, investasi bank di bidang keuangan tidak ada batasnya". (yandi mr)
INDEKS BERITA LAINNYA :
|