Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ekbis

Pabrik Pupuk Asean Aceh Fertilizer Hidup Kembali Maret
Sabtu, 22 Januari 2005 | 06:14 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah berencana mendesain ulang industri pupuk nasional dengan melakukan diversifikasi produk. Pupuk Iskandar Muda (PIM) dan Asean Aceh Fertlizer (AAF) akan dihidupkan mulai Maret mendatang. "Hal ini ditujukan untuk meningkatkan income petani yang akan berimbas pada penghilangan subisidi gas,? kata Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara, Sugiharto di Lhokseumawe, Nanggroe Aceh Darussalam.

Dengan ditingkatkannya income petani dan penghilangan subsidi gas, maka perbedaan harga jual pupuk dalam negeri dan luar negeri dapat diperkecil. ?Selama ini kita ketahui pupuk bersubsidi banyak diselundupkan ke luar,? kata Sugiharto. Dia mencontohkan seperti yang terjadi di Tanjung Balai. Diharapkan dengan melakukan dua hal tersebut, juga dapat mengurangi penyelundupan.

Sebelumnya, pemerintah telah menetapkan tiga pabrik pupuk nasional di Aceh segera dioperasikan kembali setelah dipastikan mendapat jatah 12 kargo gas. ?Pada tanggal 13 Januari 2005, pabrik pupuk Iskandarmuda I telah dibuka kembali dengan kapasitas desain sebesar 570 ribu ton,? kata Sugiharto. Dari 570 ribu ton kapasitas produksi berjalan sebesar 83 %-nya.

Sugiharto mengatakan PIM II juga akan dihidupkan pada bulan Maret akhir. Selanjutnya diikuti oleh pabrik pupuk AAF (Asean Aceh Fertilizer). ?Jadi tiga pabrik ini akan diusahakan hidup sehingga 1900 karyawannya tenang untuk 12 bulan mendatang,? ujarnya.

AAF, lanjut Sugiharto, bisa hidup kembali dengan meminjam dari PIM I utnuk membayar gaji karyawannya dari bulan Maret-Mei 2005. Setelah itu, sekitar Juni-Juli 2005, AAF dapat hidup sendiri dan utangnya akan dibayar. ?Karena itu, supaya efisien, kami minta operasi dari tiga pabrik itu dilakukan satu komando, oleh PIM I,? katanya.

Disinggung mengenai pasokan gas yang saat ini masih mengalami kekurangan sekitar 5 kargo, Sugiharto menandaskan tidak perlu berprasangka karena masih ada waktu. ?Untuk pemenuhan pasokan gas, memang dilakukan secara bertahap,? kata dia.

Lebih jauh Sugiharto mengatakan harga penjualan gas sendiri terhadap ketiga pabrik pupuk di Aceh tidak terlalu jelek, yakni sebesar US$ 2,3 mmbtu. ?Masih banyak power plant lain yang membeli gas di bawah US$ 2,3 mmbtu,? ucap Sugiharto.

Untuk melakukan efisiensi, sebenarnya dapat saja ketiga pabrik tersebut melakukan ekspor pupuk dengan seizing Departemen perindustrian dan Perdagangan. Kebutuhan pupuk Aceh dan Sumatra Utara hanya sebesar 390 ribu ton. Sedangkan kapasitas ketiga pabrik tersebut bisa mencapai 960 ribu ton. Sehingga ada selisih yang bisa diekspor.

M. Fasabeni-Tempo


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Adinda Bakrie Gelar Resepsi Mewah
Indonesia Masuk Radar OECD
Presiden Kecewa Larangan Terbang ke Eropa Diperpanjang
Anwar: Aliran Dana BI Lebih Serius dari Korupsi Biasa
Pabrik Mittal Jadi Acuan Krakatau Steel

<< January,2005>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data