Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ekonomi dan Bisnis

Produksi Garam Nasional Tahun Ini Akan Turun
Senin, 24 Januari 2005 | 02:47 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Ketua Asosiasi Produsen Garam Konsumsi Beryodium Abu Hidayat memperkirakan, produksi garam tahun ini akan turun. Paling banyak produksi akan mencapai sekitar 1,1 juta sampai 1,2 juta ton.

Penyebabnya adalah faktor alam yaitu turunnya hujan yang panjang. “Panen garam sangat dipengaruhi iklim,“ kata Hidayat kepada Tempo di Jakarta hari ini.

Abu mengatakan, produksi garam nasionl pada 2004 mencapai 1,38 juta ton. Produksi tahun lalu itu merupakan produksi tertinggi selama satu dekade panen terakhir, karena lamanya musim kemarau sehingga masa panennya juga semakin panjang. Namun, tahun ini, dengan curah hujan yang lebat dan lamanya musin penghujan produksi garam produksi diperkirakan akan turun.

Meskipun demikian, menurut dia, biarpun ada penurunan produksi, stok garam saat ini masih mencukupi kebutuhan nasional. Saat ini kebutuhan garam konsumsi mencapai 1,2 juta ton per tahun. Dengan perkiraan produksi 1,2 juta ton, maka kebutuhan itu akan terpenuhi.

Dengan perhitungan konsumsi garam 110-125 ton per bulan, stok garam nasional masih cukup untuk dua bulan mendatang. Sedangkan panen raya baru akan terjadi sekitar bulan Juni ketika musim kemarau mulai muncul.

“Yang menghawatirkan kalau produksi kurang dari itu, karena kita tidak bisa secara pasti memperkirakan kondisi alam,“ katanya.

Menurut dia, untuk mencukupi kebutuhan setelah dua bulan, asosiasi akan mengumpulkan dari daerah-daerah sentra produksi.

Langkah lainnya adalah kemungkinan untuk mengimpor garam. Namun, asosiasi akan membicarakannya terlebih dahulu dengan semua pihak terkait seperti petani garam dan pengusaha. “Tapi soal impor ini akan kami evaluasi dulu, apakah memang perlu atau tidak, karena kami juga ingin tetap melindungi petani,“ ujar Abu.

Apalagi, harga garam impor lebih dari harga garam lokal. Garam lokal kualitas K 1 mencapai Rp 145 per kilogram, kualitas K 2 Rp 100 per kilogram, dan K 3 atau di kualitas bawahnya lagi mencapai Rp 100 per kilogram. Sedangkam garam impor saat ini mencapai US$ 35-40 per ton. Harga ini belum termasuk pengapalan dan lain-lain, sehingga harga jual garam impor di pasaran bisa mencapai Rp 450 per kilogram.

Tahun lalu, garam impor mencapai 300 ribu ton untuk mencukupi kebutuhan sebelum masa panen tiba.

Muchamad Nafi - Tempo


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Pasangan Karsa Unggul di Jombang
Gubernur Tak Percayai Hasil Quick Count
Kasus Alih Kawasan BSD Diselidiki
Dada Janji Bangun Stadion Persib
Pasangan Calon Bupati dari PDI Perjuangan Unggul di Jombang

<< January,2005>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data