Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ekonomi dan Bisnis

“Sektor Agro Berpotensi Bersaing di Era Perdagangan Bebas”
Selasa, 25 Januari 2005 | 14:21 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Staf Khusus Menteri Perdagangan Halida Muljani mengungkapkan, produk-produk yang berasal dari sektor agro berpeluang besar bersaing di pasar bebas. “Indonesia bisa bersaing pada produk-produk yang bertumpu pada sumber daya alam seperti pertanian, perikanan, dan perhutanan,” kata Halida kepada Tempo di Jakarta hari ini.

Menurut dia, Indonesia dengan kekayaan alam yang sangat besar mempunyai potensi pengembangan industri di sektor ini cukup tinggi. “Termasuk juga produk-produk tambang. Indonesia cukup kompetitif,” katanya.

Berkaitan dengan kawasan perdagangan bebas ASEAN-Cina, Halida mengatakan, potensi itu makin kelihatan dengan besarnya pasar tujuan ekspor. Dengan jumlah penduduk hingga 1,7 miliar, Cina menjadi peluang besar produk-produk Indonesia, karena sektor industri hulu di Cina masih sangat kurang.

“Apalagi, kalau kIndonesia bisa mengekspor produk-produk dalam bentuk bukan bahan baku mentah. Itu akan lebih bagus untuk industri di dalam negeri,” paparnya.

Seperti diketahui, kawasan perdagangan bebas ASEAN-Cina ditargetkan sudah akan terealisasi pada 2010.

Menurut Halida, liberalisasi perdagangan merupakan hal yang tidak bisa ditawar, karena dalam globalisasi membuat sekat batas negara menjadi makin hilang. Dari liberasasi perdagangan ini akan tumbuh permintaan penghapusan hambatan dalam perdagangan, sehingga liberalisasi juga adalah menghilangkan hambatan-hambatan itu.

Pemerintah berusaha mengoptimalkan seluruh sumber dayanya untuk memasuki pasar bebas. “Tidak bisa bilang selalu tidak siap, harus dicoba sedapat mungkin agar siap, karena kalau tidak akan ketinggalan,” katanya.

Berdasarkan Data Departemen Perdagangan, tahun lalu volume perdagangan Indonesia-Cina mencapai US$ 10 miliar, di mana Indonesia surplus US$ 1 miliar. Tahun ini, menurut perkiraan Halida, volume perdagangan itu akan meningkat.

Muhamad Nafi - Tempo


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Mari Pangestu Harapkan Pembangunan Infrastruktur di Sentra Produksi
Kebijakan Pusat dan Daerah Akan Disinergikan
Departemen Perdagangan Prioritaskan Penurunan Biaya Produksi
Indonesia Usulkan Penurunan Tarif Tekstil dan Sepatu ke Jepang
Menteri Perdagangan Tolak Penundaan SK Tata Niaga Gula
Pemerintah akan Impor 500 Ribu Ton Gula
Cara Menteri Mari Melawan Penyelundup
Pemerintah Pertahankan Kebijakan Tata Niaga
Penduduk Zona Perdagangan Bebas Kena Pajak
11 Sektor Masuk Perdagangan Bebas Mulai 2005
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Tak Ada Minyak Mentah Di Antapani
Walikota Cirebon Tolak Cairkan Gaji ke 13
Polisi Ringkus Pembuat Uang Palsu
Klinik HIV/AIDS untuk Napi Banceuy
PDIP Kecewa Kepala Daerah Dilarang Kampanye.

<< January,2005>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data