Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ekonomi dan Bisnis

KPEN: Pemerintah Belum Serius Masuki Perdagangan Bebas
Selasa, 25 Januari 2005 | 16:44 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Komite Penyehatan Ekonomi Nasional (KPEN) menilai, pemerintah belum serius mempersiapkan diri memasuki kawasan perdagangan bebas.

Dalam memasuki zona perdagangan bebas ASEAN-Cina misalnya, belum terlihat kesiapan pemerintah menghadapi itu. Menurut Ketua KPEN Deputi Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN-Cina Anton Supit, Cina merupakan pasar yang besar yang bisa memberikan peluang, tapi sekaligus merupakan tantangan bagi Indonesia.

“Kalau seperti sekarang, tanpa ada perubahan yang signifikan, siap-siap saja untuk mati,” kata Anton kepada empo di Jakarta hari ini.

Menurut dia, Indonesia masih banyak mengalami hambatan dalam memasuki pasar bebas, karena antara lain belum begitu membaiknya iklim investasi. Ini bisa membuat sektor-sektor potensi ekonomi tidak berkembang, yang akhirnya akan membuat produk dalam negeri tidak bisa bersaing.

Padahal, Cina sudah mulai melakukan ekspansi di sektor industrinya. Banyak produk Cina saat ini sudah menyebar di Indonesia. “Sekarang saja belum memasuki kawasan perdagangan bebas sudah banyak barang-barang Cina, apalagi setelah kesepakatan itu berjalan,” katanya.

Dia mengakui, persiapan menghadapi pasar bebas, bukan hanya tugas pemerintah. Swasta juga perlu melakukan persiapan. “Yang perlu dilakukan adalah melakukan sinergi diantara keduanya dan saya belum melihat sinergi antara pemerintah dengan pelaku usaha secara baik,” katanya.

KPEN mengusulkan agar pemerintah melakukan kajian secara mendasar untuk masuk dalam satu area perdagangan bebas. Cina misalnya, selama lima tahun sebelum bergabung dalam Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) melakukan berbagai studi dan survei, termasuk dalam mengambil kebijakan kebijakan dan kepastian hukum.

Penyelenggaraan Infrastructure Summit, menurut Anton, tidak berarti permasalahan menghadapi perdagangan bebas telah selesai karena pembangunan infrastruktur hanyalah bagian dari pengembangan iklim investasi yang baik.

“Tapi bagaimana sektor perpajakan, ketenagakerjaan, dan kepastian hukum ini dilaksanakan. Itu tidak gampang,” katanya. “Karena itu, pemerintah seharusnya tidak hanya berbicara sebatas wacana, namun ada hal-hal yang konkret yang dilakukan.”

Muchamad Nafi - Tempo


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Adinda Bakrie Gelar Resepsi Mewah
Indonesia Masuk Radar OECD
Presiden Kecewa Larangan Terbang ke Eropa Diperpanjang
Anwar: Aliran Dana BI Lebih Serius dari Korupsi Biasa
Pabrik Mittal Jadi Acuan Krakatau Steel

<< January,2005>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data