Jos Luhukay: Koperasi Bank Bisa Penuhi Arsitektur Perbankan Indonesia
Kamis, 03 Februari 2005 | 20:36 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Bank Indonesia diminta untuk memperluas opsi kepada perbankan untuk mempercepat konsolidasi terkait program Arsitektur Perbankan Indonesia (API).
Opsi lain yang dianggap bisa memenuhi API tersebut adalah koperasi bank atau kumpulan bank. "Jangan hanya opsi merger dan akuisisi saja," kata Direktur Utama PT Bank Lippo Tbk. kepada wartawan di Jakarta, Kamis (3/2).
Pernyataan tersebut disampaikannya menanggapi saran BI agar perbankan nasional mempertimbangkan merger atau akuisisi untuk memenuhi API.
Menurut Jos, merger dan akuisisi akan membutuhkan biaya yang sangat tinggi. Padahal, di Indonesia saat ini ada sekitar 2.000 bank kecil yang harus diakuisisi.
"Bank Perkreditan Rakyat saja (jumlahnya) 2.010," katanya. Dengan jumlah itu bank jangkar (anchor) atau bank yang akan mengakuisisi belum tentu akan mampu membeli bank-bank tersebut.
Selain itu, kata dia, ada kemungkinan pelaku pasar modal tidak mendukung model merger dan akuisisi bank.
Saat ditanyakan apakah ada opsi lain bagi perbankan, Jos mengusulkan bentuk koperasi bank. Dengan pola koperasi, kata dia, akan menciptakan kumpulan bank-bank yang akan bekerja dengan baik.
Indonesia bisa meniru bank-bank dari Eropa yang berpengalaman mengelola koperasi bank. "Misalnya ABN Amro dan Rabobank. Mereka pengalaman banget mendirikan koperasi bank."
Jos menjelaskan, koperasi bank atau kumpulan bank tadi bukan koperasi simpan pinjam. "Lebih berbentuk cooperative form," ujarnya seraya mencontohkan Bank Lippo termasuk bank yang dibeli oleh koperasi bank dari RZB Grup.
Pola divestasi dan pembelian bank oleh bank lain yang terjadi di Indonesia, menurut dia, mengadopsi pola yang dilakukan bank-bank di Asia dan Amerika. "Seperti Commerce Bank atau Temasek," ujarnya."Negara-negara itu tidak punya pengalaman mengelola koperasi bank." RR. Ariyani





