Negara Asia Pasifik Tawarkan Obligasi US$ 2 Triliun

Senin, 14 Februari 2005 | 21:53 WIB

TEMPO Interaktif, Singapura:Negara-negara di Asia Pasifik akan menerbitkan obligasi internasional berjangka menengah maupun panjang, sebesar US$ 2 triliun pada tahun ini.

Lembaga pemeringkat internasional, Standard & Poor's Ratings Services memperkirakan, jumlah itu akan menaikkan total utang obligasi di kawasan ini lebih dari US$ 10 triliun.

Analis Standard & Poor's Brendan Flynn menuturkan, dorongan menawarkan obligasi dari negara-negara di kawasan Asia Pasifik ini, kuat. "Karena tingkat bunganya relatif masih menguntungkan," kata dia di Singapura, Senin (14/2).

Tambahan lagi, kata dia, selisih investasi segala instrumen investasi yang diterbitkan Amerika Serikat (US Treasury), relatif kecil.

Tahun ini, obligasi baru berjangka satu tahun lebih, bakal diterbitkan sekitar US$ 170 miliar. Sebanyak 80 persen obligasi akan ditawarkan dalam mata uang yen, dengan peringkat rata-rata AA-

Menurut Takahira Ogawa, analis kredit Standard & Poor?s, pada akhir 2005 nanti, sebesar 83 persen dari total utang Asia Pasifik adalah utang Jepang. Dengan dominasi itu maka surat utang yang diterbitkan berjangka menengah dan panjang itu, dikategorikan AA.

Tanpa memperhitungkan Jepang, Ogawa melanjutkan,
surat utang yang akan diterbikan negara-negara Asia Pasifik tahun ini hanya US$ 370 miliar.

Analis PT Mandiri Sekuritas Kahlil Rowter mengatakan, penerbitan obligasi baru itu dilakukan oleh pemerintahan negara-negara untuk menambal defisit anggaran. "Mayoritas penerbitan itu dilakukan oleh Jepang," kata dia kepada Tempo.

Namun, menurut dia, penerbitan obligasi itu sebenarnya kurang menguntungkan dilakukan tahun ini, terutama karena menguatnya tingkat suku bunga bank sentral Amerika Serikat. "Sebab, bunga obligasi juga diperkirakan bakal naik," kata dia.

Kenaikan bunga itu, tutur Kahlil, akan dirasakan berbeda-beda tergantung peringkat investasi masing-masing negara.

Untuk Indonesia, dia memperkirakan, jumlah obligasi asing yang diterbitkan tidak akan besar. "Paling sekitar US$ 1-1,5 miliar," kata dia. "Jumlah ini kecil sekali dibandingkan negara lain.?

Soal tingkat bunga obligasi valas Indonesia, dia memperkirakan, akan sedikit lebih tinggi dibandingkan obligasi dolar yang diterbitkan tahun lalu.

Dengan jumlah penerbitan yang relatif kecil ini, Kahlil mengatakan, pemerintah Indonesia tidak akan kesulitan memasarkannya. "Peminatnya banyak," ujarnya.

Salah satu yang berpotensi untuk membeli, menurut dia, adalah bank-bank asing yang membuka cabang di Indonesia. Sebab, bank-bank ini memiliki kebutuhan untuk mengkoleksi porto folio dolar dalam bentuk obligasi, sebagai penyeimbang kewajiban dalam bentuk deposito dolar mereka.

Budi Riza

TOPIK






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: