Indeks Hari Ini Masih Mungkin Mengalami Penguatan
Kamis, 17 Februari 2005 | 10:51 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Setelah kemarin indeks harga saham gabungan (IHSG) mampu mencapai level 1.073,445, analis memperkirakan, indeks hari ini (17/2) masih mungkin mengalami penguatan.
Penguatan indeks hari ini salah satunya disebabkan oleh dikeluarkannya laporan Biro Pusat Statistik (BPS) mengenai realisasi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada 2004 yang mencapai 5,13 persen.
”Kalaupun hari ini terjadi aksi ambil untung, itu akan terjadi dalam level terbatas,” kata analis Equity and Wealth Management BNI Fendi Susianto kepada Tempo.
Indeks hari ini akan bergerak di kisaran 1.065-1.080. Saham yang akan mendukung penguatan indeks hari ini diperkirakan berasal dari sektor pertambangan, telekomunikasi, dan perbankan.
Karena itu, Fendi merekomendasikan untuk aksi beli hari ini adalah saham-saham INCO (International Nickel Indonesia), BUMI (Bumi Resources), KLBF (Kalbe Farma), BNGA (Bank Niaga), serta BMRI (Bank Mandiri (Persero).
Sedangkan untuk aksi jual saham adalah saham GGRM (Gudang Garam), jika harganya naik atau sale on strength pada Rp 17 ribu dan HMSP (HM Sampoerna) pada Rp 8.050. “Saham BBCA (Bank Central Asia) dan BDMN (Bank Danamon) pun dijual jika harganya naik,” kata Fendi.
Sementara itu, menurut dia, saham TLKM (Telekomunikasi Indonesia) dan ISAT (Indosat) lebih baik ditahan dulu.
Sementara itu, menurut Kepala Riset PT Kuo Capital Rahardja Edwin A. Sinaga, kenaikan indeks yang masih berlanjut berkat dukungan beberapa berita positif pasar, seperti keluarnya Indonesia dari negara pencucian uang, publikasi laporan keuangan emiten 2004 yang tumbuh positif, perbaikan peringkat kredit perbankan oleh Fitch, serta pertumbuhan ekonomi Indonesia 2004 sebesar 5,13 persen.
Edwin menilai, meski kondisi bursa rawan adanya aksi ambil untung peluang indeks untuk kembali menguat ke level 1.075-1.082 masih terbuka. “Kalaupun ada koreksi, penurunan indeks akan terjaga di kisaran 1.058-1.067, katanya.
Berbeda dengan indeks yang kemarin mengalami kembali mencatat rekor tertinggi baru dan ditutup naik 6,245 poin (0,585 persen) menjadi 1.073,445, kurs rupiah justru terus terpuruk di level Rp 9.290 per dolar AS atau melemah 25 poin dari sebelumnya Rp 9.265 per dolar AS.
Analis treasury bank asing di Jakarta mengatakan, nasib rupiah kini tergantung dari Bank Indonesia untuk menjaga agar rupiah tidak terus terpuruk melewati Rp 9.300 per dolar AS. ”Jika level ini tembus, dolar akan terus melambung,” katanya.
Fanny Febiana/Muchtar Wijaya - Tempo





