Masyarakat Khawatir Kenaikkan BBM Akan Makin Sengsarakan Hidup

Senin, 28 Februari 2005 | 20:26 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Masyarakat dari berbagai daerah, terutama kalangan bawah, rata-rata mengkhawatirkan kenaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) akan semakin memberatkan mereka.

Sejumlah nelayan di Bondet, Kabupaten Cirebon serta para pengemudi jasa angkutan sungai (speed boat dan kapal barang) yang mangkal di Pelabuhan Flamboyan, Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, mengkhawatirkan kenaikkan tersebut. Khususnya BBM jenis solar.

Menurut Warsidi, nelayan dari Bondet, Kabupaten Cirebon, sekarang saja harga solar di wilayahnya sudah mencapai Rp 2.000 per liter. Padahal, pemerintah menetapkan harga eceran solar Rp 1.650 per liter. “Kalau sekarang dinaikkan, mau jadi berapa lagi?” katanya kepada Tempo di Cirebon.

Karena itu, dia meminta pemerintah tidak menaikkan BBM, khususnya solar. Karena berapa pun kenaikkan BBM, sudah pasti akan memberatkan dirinya sebagai nelayan. Dia bahkan sudah memikirkan untuk beralih profesi tidak menjadi nelayan lagi, jika pemerintah menaikkan harga BBM.

Karsiman, seorang nelayan lainnya, menambahkan bahwa kenaikkan BBM itu bisa-bisa akan menghabiskan modalnya sehingga tidak bisa melaut lagi. “Kalau BBM kembali naik, berapa keuntungan yang bisa saya dapatkan? Sedangkan hasil tangkapan sekarang tidak pernah bertambah, malah cenderung berkurang,” katanya.

Menurut dia, setiap kali melaut dia membutuhkan solar sekitar 100 liter atau dia harus merogoh kocek untuk membeli solar Rp 200 ribu. “Itu untuk persediaan dari melaut pada malam hari dan pulang keesokan harinya,” katanya.

Dia mengatakan, mahalnya harga solar disebabkan di daerahnya, karena tidak ada stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), sehingga nelayan harus membeli di sejumlah warung-warung yang menjual BBM dengan harga lebih mahal.

Hal yang tak jauh berbeda juga dikeluhkan sejumlah pengemudi jasa angkutan sungai yang mangkal di Pelabuhan Flamboyan, Kota Palangkaraya. Para pengemudi ini khawatir akan kehilangan mata pencaharian mereka, jika tarif angkutan sungai ikutan naik karena harga BBM naik.

Abdilah, seorang pemilik kapal barang jurusan Palangkaraya-Kuala Kurun (Kabupaten Gunung Mas) berharap pemerintah tidak buru-buru menaikan harga BBM. Pasalnya, jika BBM naik, pemilik kapal barang terpaksa menaikan tarif angkutan.

“Resiko yang dihadapi bila tarif angkutan naik, jumlah arus angkutan barang yang menggunakan kapal akan semakin berkurang. Pemilik barang tentu akan memilih tarif angkutan yang lebih murah, yakni angkutan darat,” katanya di Palangkaraya.

Kekhawatiran ini juga diungkapkan Moses, pemilik speed boat. Menurut dia, saat ini tarif penumpang yang menggunakan speed boat Rp 90 ribu untuk sekali jalan. Sedangkan bila menggunakan jalan darat hanya Rp 50 ribu. “Jika BBM naik, kami terpaksa menaikkan tarif. Tapi masyarakat tentu akan memilih lewat jalur darat, karena lebih murah, walaupun jarak tempuhnya lebih lama,” kata Moses.

Sementara itu, ratusan awak bus jurusan Bogor-Kampung Rambutan, Jakarta hari ini melakukan aksi unjuk rasa menolak kenaikan ini. Para awak bus mengatakan, jika BBM naik maka secara otomatis kenaikan harga bahan pokok juga naik, sehingga kehidupan awak bus yang pas-pasan akan semakin tercekik. Selain itu, juga akan memicu harga suku cadang kendaraan.

Apalagi, pemerintah menyarankan agar kenaikan tarif bus hanya 10 persen saja. Padahal,
kenaikan harga BBM mencapai 30 persen. “Kalau BBM naik, kami akan semakin sengsara,” kata Ucok Simarmata, salah seorang awak bus.

Ivansyah/Karana WW/Deffan Purnama - Tempo

Topik :






Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: