|
Sugiharto: Bank BUMN Harus Jadi Bank Internasional
Selasa, 01 Maret 2005 | 13:42 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Bank-bank milik pemerintah, seperti PT Bank Mandiri Tbk., PT Bank Negara Indonesia Tbk., PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. harus mengejar pertumbuhan yang agresif untuk dapat menjadi bank yang internasional.
Penegasan tersebut disampaikan Menteri Negara Badan Usaha Milik Sugiharto saat membuka diskusi dengan tema "Menguak Kontroversi Rencana Merger Bank-bank BUMN" di Jakarta, Selasa (1/3).
Lebih jauh Sugiharto mengatakan, untuk menjadi bank skala internasional tidak ada jalan lain kecuali menggenjot permodalan. Hal itu harus dilakukan karena kondisi permodalan ketiga bank pelat merah itu masih jauh dari persyaratan sebagai bank internasional, yang harus memiliki modal minimal Rp 50 triliun.
Sugiharto mengatakan, berdasarkan data per 30 Juni 2004, modal Bank Mandiri baru merncapai Rp 22,73 triliun, BNI sebesar Rp 11,15 triliun, dan BRI sebesar Rp 14,14 triliun.
Ia mengatakan, jika bank-bank BUMN menjadi bank jangkar (anchor bank) dalam proses konsolidasi, biasanya proses merger atau akuisisi akan lebih lancar dibandingkan dengan bank-bank swasta yang memulainya.
"Bila proses merger dilakukan oleh bank-bank BUMN, potensi terjadinya gejolak akan lebih sedikit," kata dia.
Sementara itu, Kepala Stabilitas Sistem Keuangan Bank Indonesia Muliaman D. Hadad mengatakan, upaya memperbaiki peran perbankan dalam perekonomian Indonesia tidak melulu menyangkut konsolidasi.
"Hal yang lebih penting apakah bank-bank pasca konsolidasi bisa menyalurkan kreditnya atau tidak."
Dia juga mengatakan, terpenting dalam proses konsolidasi adalah bisa diselesaikannya gap yang terjadi antara kedua bank yang melakukan merger atau akuisisi. Diantaranya masalah kemampuan dan integritas sumber daya manusia bank itu. Sam Cahyadi
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
| |
|
|
|
| Kantor PT Petrokimia Gresik
|
|
|
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|