Indonesia Tawarkan Obligasi Global Berjangka 10 Tahun

Jum'at, 18 Maret 2005 | 04:01 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah mulai menjajaki (roadshow) penawaran obligasi internasional senilai US$ 1 miliar kepada investor di pelbagai negara. Surat utang yang ditawarkan kemungkinan berjangka waktu sepuluh tahun atau lebih.

"Karena tidak mungkin berjangka lima atau tujuh tahun," kata seorang anggota tim seperti dilansir Dowjones di Singapura.

Jangka waktu ini sama dengan jangka waktu obligasi valuta asing yang diterbitkan pemerintah tahun lalu yang diminati banyak pembeli. Pemerintah agaknya berharap mendapat sukses yang sama untuk penerbitan obligasi dengan mata uang dolar AS tahun ini. Tahun lalu dari US$ 1 miliar obligasi yang ditawarkan, animo yang masuk mencapai US$ 4,16 miliar.

Penjajakan obligasi ke sejumlah negara ini dilakukan oleh dua tim. Tim pertama dipimpin Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Sugiharto yang memulai presentasi di Hong Kong kemarin. Tim kedua dipimpin Ketua Badan Pengawas Pasar Modal Darmin Nasution yang memulainya di Singapura hari ini (lihat Menjajakan Obligasi). Tim tersebut didampingi oleh penjamin emisi, yakni Citigroup, Deutsche Bank, dan UBS.

Menurut Lin Che Wei, salah seorang anggota tim yang ikut ke Hong Kong, Sugiharto dan pejabat Departemen Keuangan memaparkan kondisi ekonomi makro saat ini dan prediksi ke depan. "Para investor sifatnya hanya mendengarkan," kata Che Wei kepada Tempo.

Karena itu, kata Che Wei, belum diperoleh gambaran bagaimana animo para calon pembeli terhadap obligasi pemerintah. Che Wei menduga para investor masih menunggu kepastian dan penjelasan detail soal rencana ini. "Karena pasar obligasi internasional juga sedang bergejolak," kata dia.

Faktor eksternal ini, kata Che Wei, ditengarai membuat investor Hong Kong belum menunjukkan minatnya. "Kalau faktor internal dalam negeri tidak masalah," katanya.

Soal gejolak pasar obligasi valuta asing ini dibenarkan Direktur PT Trimegah Sekuritas Desimon. Menurut dia, saat ini harga obligasi di pasar luar negeri sedang merosot. Para pembeli cenderung mencari imbal hasil (yield) yang terlalu tinggi.

Para investor, kata Desimon, membenamkan investasinya pada obligasi dari negara yang punya peringkat utang rendah. "Tapi yang prospek ke depannya bagus," kata dia.

Peringkat Indonesia, menurut Desimon, kini masih rendah. Dan, "Tak perlu diragukan lagi kemampuan pemerintah bayar utang karena cadangan devisa terus naik."

Lembaga pemeringkat utang Moody's Investor Service memberi peringkat kepada Indonesia sebesar B2. Sementara Standard & Poor's Agency dan Fitch masing-masing memberi peringkat B+. Obligasi global yang akan diterbitkan pemerintah juga dinaikkan peringkatnya dari B- menjadi B+ oleh S & P.

Tapi, menurut dia, bukan berarti obligasi pemerintah akan diminati investor. Sebab, kondisi saat ini berbeda dibanding tahun lalu. Tahun lalu, pasar obligasi di luar negeri sedang bagus. "Apapun yang dijual pemerintah pasti dibeli orang," kata dia.

Sedangkan, dalam situasi sekarang tingkat suku bunga Amerika Serikat diprediksi akan terus naik. Selain itu, hampir semua negara Asia juga telah menerbitkan obligasi sehingga banyak beredar obligasi di pasar.

Namun, isu moratorium utang dari Paris Club, dinilai Desimon, menjadi isu positif bagi pemerintah. Sebab pemberian moratorium, kata dia, menunjukan Indonesia dipercaya oleh negara donor.

Meski begitu, kata Desimon, faktor-faktor itu hanya menjadi faktor pendukung yang akan dipertimbangkan para investor sebelum membeli surat utang pemerintah. "Kita lihat nanti saat pencatatan perdana di bursa," kata Desimon.

Penerbitan obligasi tahun ini merupakan kali kedua setelah pemerintah berhenti menerbitkan obligasi valuta asing akibat krisis ekonomi 1997. Tahun lalu obligasi pemerintah dicatatkan di bursa Luksemburg.

Menurut Mulia untuk tahun ini pencatatan obligasi rencananya juga masih di tempat yang sama. Saat ini obligasi berjangka sepuluh tahun itu dijual dengan harga 102,5 dan yield 6,38 persen.

Bagja Hidayat - Tempo

TOPIK






Komentar Anda

Kirim