Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ekonomi

“Pencabutan Kebijakan Kenaikan BBM Takkan Turunkan Harga”
Minggu, 20 Maret 2005 | 19:53 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pengamat ekonomi Mohamad Sadli meminta, pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono tidak mencabut kebijakan kenaikan bahan bakar minyak (BBM), karena akan memberikan pengaruh yang lebih merugikan.

Jika pemerintah membatalkan kenaikan BBM, akibatnya akan parah karena menyangkut legitimasi pemerintahan Yudhoyono. Apalagi, pencabutan kebijakan kenaikan BBM itu juga tidak serta merta akan menurunkan harga barang-barang yang telah naik.

"Cara terbaik menyiikapi ini dengan memperketat pengawasan sistem kompensasi BBM yang melibatkan segenap unsur masyarakat," kata Sadli, yang juga mantan Menteri Pertambangan selama periode 1973-1978 ini, dalam diskusi tentang politik BBM nasional dari waktu ke waktu di Jakarta hari ini.

Meskipun demikian, dia mengakui, cukup sulit untuk mewujudkan itu karena ada perbedaan dalam menentukan kriteria penduduk miskin. Biro Pusat Statistik (BPS) misalnya, menggunakan kriteria keluarga miskin, yaitu satu keluarga yang terdiri dari empat anggota dengan pengeluaran sekitar Rp 500 ribu per bulan.

"Dengan kriteria ini, lurah merasa kesulitan dalam menentukan keluarga miskin," katanya.

Karena itu, menurut Sadli, jika pemerintah berhasil menjalan program kompensasi 75 persen saja itu sudah cukup baik. "Rasanya sulit untuk berhasil 100 persen," katanya.

Sadli mengatakan dalam sejarah Indonesia telah terjadi kenaikan BBM sekitar 25 kali dan selalu mendapat tantangan. "Selalu dikatakan salah dan sangat sensitif sejak tahun 1973," tanbahnya.

Sementara itu, Menteri Pertambangan dan Energi Purnomo Yusgiantoro menjelaskan, selama ini subsidi BBM sangat memberatkan APBN. "Terlebih dengan semakin tingginya harga minyak," katanya.

Selain itu, dengan adanya subsidi selama ini mengakibatkan maraknya penyelundupan serta pengoplosan antar jenis BBM. Juga cenderung terjadi pemborosan pemakaian energi.

Dia mengakui, untuk setiap kenaikan harga minyak dunia sebesar US$ 1 per barel ada windfall profit sebesar US$ 1 juta. "Namun yang harus diingat, ini menjadi beban karena konsumsi dalam negeri yang semakin tinggi sehingga subsidi pun membengkak," katanya.

Konsumsi BBM dalam negeri meningkat menjadi sekitar 59,63 juta kilo liter per tahun. Ini masih ditambah kemampuan ladang minyak yang sudah semakin menurun.

"Industri perminyakan Indonesia sudah 100 tahun yang mengakibatkan terus turunnya kemampuan produksi," ujarnya.

Muhamad Fasabeni - Tempo



Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Spanduk Protes Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) menyerukan agar bulan Juli 2001 Jakarta bebas bensin bertimbel dengan memakai masker di Bundaran HI, Jakarta, Minggu, 22 April 2001. [TEMPO/ Bernard Chaniago; Digital Image; 20010503].
Spanduk Bebas Bensin Bertimbal
Protes Komite Penghapusan Bensin Bertimbel
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Kwik Usul DPR Gunakan Hak Angket
Arbi Sanit: Wajar Aksi Fisik Anggota DPR tentang BBM
UNHCR di Aceh Akan Tutup Kantor
Nelayan Kepulauan Seribu Keluhkan Mahalnya Harga Solar
Komandan Brimob Akui Anggotanya Pemicu Bentrokan di Nabire
Pertemuan Presiden-Ketua Fraksi DPR Batal
Polda Metro Tahan Truk Tangki Minyak Tanpa Surat
Pertamina Perketat Pengawasan Peredaran Minyak Tanah
PDIP Akan Hukum Anggotanya yang Setuju Kenaikan BBM
Sidang Paripurna DPR Tidak Hasilkan Keputusan
> selengkapnya...


Referensi

Keppres No. 86/2002 tentang Badan Pengatur Penyediaan dan Pendistribusian BBM
Keputusan Gubernur DKI No. 1219/2003 tentang Pembentukan Tim Koordinasi UPMP-BBMT

Website

Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral
Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC)
PT Pertamina


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [1]


Berita Terakhir

Adinda Bakrie Gelar Resepsi Mewah
Indonesia Masuk Radar OECD
Presiden Kecewa Larangan Terbang ke Eropa Diperpanjang
Anwar: Aliran Dana BI Lebih Serius dari Korupsi Biasa
Pabrik Mittal Jadi Acuan Krakatau Steel

<< March,2005>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data