Sugiharto Melantik Direksi Baru Garuda
Senin, 21 Maret 2005 | 13:04 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Garuda Indonesia sedang terpuruk, karena bekas Direktur Utama-nya saat masih menjabat dan dua pejabat lainnya diduga terlibat pembunuhan aktifis hak asasi manusia, Munir. Namun, dalam pelantikan direksi baru Garuda di kantor pusat Garuda Jakarta, Senin (21/3), Menteri Negara Badan usaha Milik Negara (BUMN), Sugiharto masih yakin soal kemampuan Garuda.
Menurut Menteri Sugiharto, Garuda harus mampu melakukan perubahan ke arah yang lebih baik agar dapat berkompetisi dengan penerbangan lain didunia. "Kita menginginkan Garuda menjadi Flag Carier"ujarnya.
Sugiharto menyatakan, berdasarkan Wall Street Journal pekan, Garuda dimasukan dalam kategori The Weakness di Asia. "Bahkan dari statistik comperable Hong Kong, Garuda tidak dimasukkan ke dalam daftar mapping karena dianggap tidak kompetitif,"katanya.
Sugiharto mengakui, bahwa restrukturisasi susunan komisaris dan direksi Garuda merupakan salah satu program yang tidak berhasil dicapai dalam program 100 hari kementrian negara BUMN. Di dunia penerbangan sekarang sedang berkembang Low Cost Carier (LCC), sehingga suka atau tidak suka Garuda sebagai armada penerbangan nasional harus siap menghadapi global competition tersebut. "Garuda dengan menggunakan sistem Low Cost Carier harus menghasilkan output yang baik dan dapat bersaing,"katanya.
Mengenai kinerja keuangan Garuda, Sugiharto menyatakan, Garuda masih dibawah kinerja keuangan industri dimana Break Event Point (BEP) 72 persen, sedangkan Load Factor masih di bawah 60 persen. Adapun, arus kas Garuda sampai tahun 2004 masih mengalami defisit. Hal ini disebabkan, karena full price yang tinggi, beban utang yang tinggi hampir US$ 845 juta. Sedangkan, on time performance Garuda masih di bawah standar 87 persen.
Apabila Garuda tidak segera bangkit, menurut Menteri Sugiharto, maka hambatan-hambatan tersebut akan menghancurkan kinerja Garuda. Ditambah lagi dengan harga minyak dunia yang sudah melebihi US$ 57 perbarel, membuat fuel (bahan bakar) Garuda ikut naik.
Evy Flamboyan





