“Bencana Alam Berpotensi Merugikan dan Menguntungkan Bisnis Asuransi”
Senin, 21 Maret 2005 | 22:42 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Bencana alam bisa mengancam bisnis asuransi, tapi sekaligus juga bisa menjadi potensi yang menguntungkan.
Menurut Chief Underwriter Swiss Reinsurance di Asia Ruediger Otto, bencana alam seperti tsunami, gempa, banjir, pemanasan global, resiko teknologi, penyebaran penyakit menular, hingga masalah terorisme dan meningkatnya jumlah tuntutan hukum, bisa mengancam bisnis asuransi.
Ancaman-ancaman ini bisa menimbulkan risiko kerugian yang besar bagi permodalan industri asuransi. Karena itu, menurut Otto, perusahaan asuransi lokal dan komunitas hukum harus mewaspadai berbagai potensi ancaman tersebut.
"Sebagian dari ancaman itu merupakan risiko yang sudah lama diketahui, tapi sebagian lagi merupakan risiko yang baru saja berkembang." kata Otto di Jakarta hari ini. "Ini justru memiliki potensi kerugian besar yang akan mempengaruhi permodalan perusahaan."
Dia mengingatkan, risiko tuntutan hukum misalnya, sering diabaikan perusahaan asuransi. Begitu pula, perkembangan penyakit ditempat kerja, teknologi, kesehatan, dan perlindungan hak-hak pegawai dan pemegang saham, juga akan memunculkan lebih banyak lagi tuntutan hukum.
"Tanpa disadari, dampaknya justru bisa meluas menjadi skala industri," kata Otto.
Meskipun demikian, menurut Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia Frans Sahusilawane, sebenarnya ancaman-ancaman itu bisa menjadi potensi bagi perusahaan asuransi.
Bencana alam gempa dan tsunami yang terjadi di Nanggroe Aceh Darussalamdan Sumatera Utara beberapa waktu lalu misalnya, seharusnya bisa menjadi peluang yang besar bila perusahaan asuransi bisa membaca sebelumnya. Perusahaan asuransi sudah menanamkan kesadaran kepada masyarakat untuk berasuransi puluhan tahun yang lalu.
"Ini lho risiko yang mengancam, tapi bisa jadi potensial income yang besar," kata Frans pada kesempatan sama.
Dia menambahkan, berdasarkan data Departemen Keuangan, total pertanggungan premi asuransi saat ini mencapai US$ 3 miliar. "Padahal, itu bisa ditingkatkan lagi," katanya.
Otto juga membenarkan. Swiss Reinsurance, kata dia, hanya menanggung klaim asuransi yang relatif rendah dari bencana di Aceh itu, yakni hanya 2 persen. "Padahal, seharusnya bisa lebih besar lagi," katanya.
Menurut Otto, jika bencana yang sama dialami negara bagian California, Amerika Serikat, perusahaannya akan menanggung klaim sebesar 40 persen.
Dian Imamah - Tempo





