Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ekonomi

Kebijakan Kenaikan BBM Dinilai Tak Berlandaskan Teori Ekonomi
Rabu, 23 Maret 2005 | 20:47 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Sejumlah pengamat ekonomi mengkritik kebijakan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono menaikkan bahan bakar minyak (BBM) yang tidak berlandaskan teori ekonomi politik ilmiah.

Demikian terungkap dalam diskusi peluncuran buku Ekonomi Politik oleh Didik J. Rachbini, di Jakarta hari ini.

Didik mengatakan, kebijakan publik sangat terkait dengan aspek ekonomi politik, sehingga harus mengacu pada teori yang jelas. Dengan demikian, dampak negatif dari kebijakan itu bisa dikurangi.

"Sehingga diketahui, siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan dengan kebijakan itu," katanya.

Namun, Didik sendiri ketika ditanya lebih lanjut perihal setuju tidaknya dia dengan kenaikan BBM ini, tidak menjawab secara tegas. "Ini masalahnya bukan setuju atau tidak. Yang penting prosesnya baik atau tidak," katanya.

Berkaitan dengan kompensasi BBM, Ketua Tim Indonesia Bangkit Rizal Ramli menambahkan, basis kebijakan dana kompensasi itu juga menggunakan data asumsi yang salah. Pernyataan yang dikeluarkan oleh sebuah lembaga penelitian baru-baru ini bahwa kenaikan BBM akan mengurangi angka orang miskin, sangat aneh.

"Kalau argumen yang digunakan adalah untuk efesiensi, itu bisa diterima. Tapi kalau untuk mengurangi jumlah orang miskin itu ngawur," kata Rizal.

Menurut Rizal, beban ekonomi seharusnya dipikul bersama-sama. Karena itu, ada tiga hal yang harus diselesaikan dulu oleh pemerintahan Yudhoyono sebelum memutuskan menaikkan harga BBM. Tiga hal itu adalah harus ada share capital dari bank-bank yang telah menerima subsidi dari pemerintah, negosiasi utang luar negeri, serta membenahi birokrasi, pajak dan bea cukai.

"Kalau ketiga hal ini sudah dilakukan oleh SBY, baru SBY bisa bicara menaikkan BBM," katanya.

Dia mengatakan, cara pemerintah untuk menaikkan BBM tidak berbeda dengan Orde Baru, yakni memaksa supaya kebijakan itu tetap berjalan.

Sementara itu, Direktur Indonesian Development of Economics and Finance (Indef) Iman Sugema mengatakan, kebijakan kenaikan BBM itu tidak lepas dari pengaruh kelompok ekonomi yang telah lama mendominasi arah kebijakan ekonomi Indonesia yang menganut fundamentalis pasar.

"Selama ini pasar ini didominasi oleh kelompok Salemba, yang sebenarnya telah gagal dalam membangun perekonomian bangsa yang berujung pada krisis," kata Iman.

Dian Imamah - Tempo

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
         
Spanduk Protes Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) menyerukan agar bulan Juli 2001 Jakarta bebas bensin bertimbel dengan memakai masker di Bundaran HI, Jakarta, Minggu, 22 April 2001. [TEMPO/ Bernard Chaniago; Digital Image; 20010503].
Spanduk Bebas Bensin Bertimbal
Protes Komite Penghapusan Bensin Bertimbel
>>selengkapnya ::

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Depdiknas Masih Pikirkan Alokasi Dana Kompensasi BBM
Anggota DPR yang Mogok Makan Dilarikan ke Rumah Sakit
PDIP Walk Out dari Rapat Paripurna
“Pencabutan Kebijakan Kenaikan BBM Takkan Turunkan Harga”
Kwik Usul DPR Gunakan Hak Angket
Arbi Sanit: Wajar Aksi Fisik Anggota DPR tentang BBM
UNHCR di Aceh Akan Tutup Kantor
Nelayan Kepulauan Seribu Keluhkan Mahalnya Harga Solar
Komandan Brimob Akui Anggotanya Pemicu Bentrokan di Nabire
Pertemuan Presiden-Ketua Fraksi DPR Batal
> selengkapnya...


Referensi

Inpres No. 5 Tahun 2000 tentang Koordinasi Penanggulangan Masalah Penyalahgunaan Pada Penyediaan dan Pelayanan Bahan Bakar Minyak.
Keppres No. 86/2002 tentang Badan Pengatur Penyediaan dan Pendistribusian BBM
Keputusan Gubernur DKI No. 1219/2003 tentang Pembentukan Tim Koordinasi UPMP-BBMT

Website

Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral
Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC)
PT Pertamina


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [1]


Berita Terakhir

Adinda Bakrie Gelar Resepsi Mewah
Indonesia Masuk Radar OECD
Presiden Kecewa Larangan Terbang ke Eropa Diperpanjang
Anwar: Aliran Dana BI Lebih Serius dari Korupsi Biasa
Pabrik Mittal Jadi Acuan Krakatau Steel

<< March,2005>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data