Astra Argo Lestari Buka Lahan Baru

Rabu, 06 April 2005 | 14:11 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Wakil Presiden Direktur PT. Astra Agro Lestari Tbk., Benny Tjoeng, mengatakan PT. Astra Agro Lestari akan membuka lahan 100- 140 ribu hektar dalam 5-7 tahun ini. "Dana yang dibutuhkan sebesar Rp 3 - 3,5 triliun," kata Benny kepada wartawan di Jakarta, Rabu (6/4).

Sumber dana ini, menurut Benny, diperoleh dari dana internal, jika pembukaan lahan dilakukan secara bertahap. "Tapi jika harus akuisisi (membeli kebun yang sudah jadi), mungkin kami harus menerbitkan obligasi," kata Benny.

Untuk tahun ini saja, Agro Lestari sudah melakukan negosiasi pembukaan lahan 100 ribu hektar. Lahan yang sudah dimiliki dalam bentuk Hak Guna Usaha (HGU) tapi belum dibangun, luasnya 40.000 hektar. "Tahun ini kami harap dapat membuka sekitar 15.000 hektar di Sumatera, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur dengan investasi Rp. 400 miliar," kata Benny.

Lahan yang siap panen tahun ini luasnya 190.000 hektar. Menurut Presiden Direktur Astra Agro Lestari, Maruli Gultom, Astra Agro Lestari belum akan melakukan diversifikasi usaha. Ketika ditanya mengenai pembelian saham Astra Agro Lestari oleh Sampoerna yang akan beralih ke bisnis pertanian, Maruli mengatakan mereka belum melakukan pembicaraan apapun.

Tahun ini, Astra Agro Lestari menargetkan produksi minyak kelapa sawit (CPO) 850.0000 ton, atau naik 10-15 persen dibanding tahun lalu. Ekspor yang dilakukan Astra Agro Lestari tahun ini, tidak berbeda jauh dengan tahun lalu, yaitu sekitar 45-50 persen.

Mengenai kemungkinan bertambahnya kebutuhan Cina terhadap kelapa sawit, Benny mengatakan produk yang diminta Cina adalah produk yang sudah diolah (refined product). "Sedangkan yang dikelola Astra Agro Lestari adalah barang mentahnya (crude)," katanya.

Kenaikakan harga bahan bakar minyak, menurut Benny, tidak akan terlalu mempengaruhi harga kelapa sawit, karena kontribusi biaya transpor hanya 8 persen. Tahun ini, Benny memperkirakan, harga kelapa sawit tidak akan lebih baik dari 2004. Karena harga ini tergantung cuaca.

Harga CPO saat ini sedang turun, sekitar 17 persen dari tahun lalu. Namun Benny optimis tahun ini harganya akan lebih baik, tapi tak sebaik 2004. Karenanya dengan naiknya produksi yang diikuti penurunan harga, Benny memperkirakan pendapatan perusaahaan (revenue) akan tetap, sama seperti tahun lalu. Karenanya menurut Benny harga pokok produksilah yang akan ditekan.

Fanny Febiana






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: