Rating Bank di Indonesia Paling Tinggi Hanya B+

Rabu, 06 April 2005 | 19:16 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Bank Indonesia (BI), menurut Direktur Utama PT Bank Lippo Tbk Joseph Luhukay, diminta menentukan sikap atas model penerapan Basel II yang cocok di Indonesia. "Di Indonesia sebaiknya menerapkan model yang paling rendah. BI harus menyuarakan itu," katanya.

Alasannya, persyaratan dari perhitungan modal yang berbasis risiko diterapkan pada bank-bank yang masuk dalam rating single A+. Sedangkan di Indonesia, persyaratan dari perhitungan modal yang berbasis risiko diterapkan pada bank-bank yang masuk dalam rating single A+. Sedangkan di Indonesia, rating bank paling tinggi hanya B+. "Kalau kita harus pakai standar A+ jadi nggak masuk akal,"ujar Joseph.

Karena, untuk mengejar kebutuhan modal tinggi akan memberi dampak pada kenaikan biaya perbankan, sehingga mau tidak mau bank harus menaikkan suku bunga pinjaman dan komponen lainnya. "Pasar nggak akan mau dengan kenaikan itu,"kata Joseph.

Sebagai catatan, Basel II adalah cara penghitungan rasio cukupnya modal (CAR) bank dengan mempertimbangkan risiko pasar. Selama ini perhitungan CAR bank di Indonesia hanya menghitung risiko kredit (lancar,kurang lancar dan macet). Nantinya sesuai dengan aturan Basel, kelak faktor risiko manajemen dan risiko pasar pun akan dimasukkan.

Dalam ketentuan Basel II, ada penggolongan bagi setiap kolateral, sesuai dengan risikonya. Ada yang dianggap berisiko tinggi, sedang, rendah, dan seteruanya. Semuanya ini akan ditentukan dalam suatu standar internasional. Selain itu, biaya yang dibutuhkan untuk pengembangan Teknologi dan Informasi (TI) serta konsultan dalam menjalankan Basel II masih sangat tinggi mencapai US$ 88 juta. "Siapa yang kuat? Itu, kan berat,"ujarJoseph.

Sebelumnya, Global Financial Services Risk Management Zurich, Jurg Burkhard, menyatakan untuk perbankan di Asia, biaya yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan seluruh ketentuan Basel II rata-rata sebesar US$ 88 juta.
Bahkan, untuk beberapa bank besar, paling tidak akan menggunakan sekitar 0,05 persen dari total aset yang dimiliki.

Menurut Joseph, diperkirakan antara 40-80 persen dari total biaya implementasi berkaitan dengan implementasi TI. Kesulitan lain dalam persiapan implementasi Basel II adalah data lama bank untuk menentukan model Basel II. Terutama, data sebelum krisis perbankan terjadi seperti data kredit macet.

Selain itu, perbankan di Indonesia belum mempunyai panutan atau contoh dalam penerapan Basel II. Kalaupun ada, belum bisa dipastikan model itu cocok dengan perbankan di Indonesia. "BI juga belum mempunyai arahan,"katanya. Kendati begitu, pihaknya akan mencoba memenuhi target yang ditetapkan BI untuk menjalankan Basel II yaitu tahun 2008. "Kami coba penuhi jadwal BI,"ujarnya.

Sam Cahyadi






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: