Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Ekonomi

Bank Dunia: Indonesia Harus Bisa Manfaatkan Dana Non-Perbankan
Jum'at, 08 April 2005 | 22:19 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Indonesia harus bisa memanfaatkan dan memobilisasikan sumber-sumber dana lokal sebisa mungkin.

Menurut Koordinator Sektor, Keuangan dan Pengembangan Sektor Swasta Kantor Bank Dunia di Jakarta P.S. Srinivas, Indonesia jangan hanya memanfaatkan dana dari sektor perbankan saja, tapi juga dana dari pasar modal.

Selain itu, Indonesia bisa memanfatkan dana dari institusi keuangan lainnya seperti dana pensiun dan dana dari perusahaan asuransi, mutual funds, leasing, atau modal ventura.

"Potensi sektor-sektor itu sangat besar. Dana pensiun dan asuransi jiwa misalnya, punya aset lebih dari Rp 130 triliun dan ini akan terus berkembang. Sedangkan aset dari mutual funds sekitar Rp 100 triliun,” kata Srinivas di Jakarta hari ini.

Dia menambahkan, Bursa Efek Jakarta (BEJ) tahun lalu menjadi pasar modal peringkat kelima terbaik sedunia (mata uang lokal). Sayangnya, saat ini kurang dari 75 ribu orang saja dari total 220 juta penduduk Indonesia yang berinvestasi di pasar modal.

"Padahal, akan terjadi perubahan besar jika sebagian kecil saja dana itu diinvestasikan untuk proyek-proyek investasi jangka panjang," ujarnya.

Karena itu, Indonesia harus melakukan diversifikasi untuk memperluas alternatif tempat investasi. Ini bisa memperkecil resiko jika suatu saat terjadi goncangan finansial. Sektor perbankan di Indonesia memegang lebih dari 80 persen dari total aset finansial. Setelah terjadi krisis ekonomi dan keuangan, lebih dari 50 persen produk domestic bruto (PDB) digunakan untuk memulihkan kembali sektor ini.

Menurut Srinivas, untuk melakukan diversifikasi sektor keuangan non-bank, ada dua tahapan.

Pertama, pemerintah harus mengidentifikasi ulang dan meyakini bahwa pengembangan sektor keuangan non-bank adalah kunci bagi pembangunan Indonesia.

Kedua, pemerintah harus memfokuskan diri pada upaya perbaikan seperti menegakkan prosedur akuntansi dan audit, mengembangkan biro kredit, dan meningkatkan corporate governance.

Thoso Priharnowo - Tempo

Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
   
Wakil Presiden Bank Dunia, Gautam S Kaji (tengah) diwawancara wartawan di Departemen Keuangan, Jakarta, 1993. [TEMPO/ Rully Kesuma; 16D/317/1993; 20020730].
Gautam S Kaji

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Bank Dunia : Perekonomian Indonesia Akan Tumbuh 5,4 Persen
Harga Minyak Melambung, Pertumbuhan Ekonomi Dunia Terancam
IFC Sediakan US$ 4,6 Juta untuk UKM
Belanda Hibahkan US$ 22 Juta untuk Program Air Bersih
Miranda: API Penting untuk Antisipasi Krisis
Pencalonan Wolfowitz Dinilai Mengerikan
Bank Dunia: Birokrasi dan Korupsi Halangi Investasi
Jusuf Kalla: Keputusan Paris Club Belum Final
Pemerintah Indonesia Setuju Utang Lagi pada Bank Dunia US $ 275 Juta
Bank Dunia Janji Bantu Program Pembangunan Infrastruktur
> selengkapnya...


Referensi

Utang Makin Menumpuk, CGI Jalan Terus

Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Tak Ada Minyak Mentah Di Antapani
Walikota Cirebon Tolak Cairkan Gaji ke 13
Polisi Ringkus Pembuat Uang Palsu
Klinik HIV/AIDS untuk Napi Banceuy
PDIP Kecewa Kepala Daerah Dilarang Kampanye.

<< April,2005>>
MSnSl RK JS
     01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data