|
Ekonomi
Pertamina Kembali Akan Naikkan Harga Pertamax dan Pertamax Plus
Sabtu, 09 April 2005 | 03:42 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:PT Pertamina (persero) kembali akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis pertamax dan pertamax plus menjadi sekitar Rp 5.000 per liter. Alasannya, harga di pasar dunia saat ini telah lebih dari Rp 5.000.
Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Ari Soemarsono mengatakan, kenaikan harga pertamax dan pertamax plus itu tidak memerlukan persetujuan dari pemerintah, karena keduanya termasuk jenis bahan bakar bersubsidi. "Itu kan barangnya Pertamina," kata Ari di Jakarta.
Menurut dia, penyesuaian harga diperlukan karena harga pokoknya terus meningkat, yang saat ini telah mendekati angka Rp 4.000 per liter. Angka itu belum termasuk biaya pengangkutan dari kilang Singapura, kilang Cilacap, Dumai, atau Balikpapan. Namun, Ari tidak bersedia menyebutkan lebih detail kapan rencana kenaikan harga itu akan diberlakukan dan berapa besaran kenaikan yang pasti. "Nanti, akan kami lihat dulu," katanya.
Penyesuaian harga dua jenis BBM itu terakhir dilakukan pada 19 Desember 2004. Saat itu harga pertamax dinaikkan dari Rp 2.450 menjadi Rp 4.000 per liter (62 persen), dan harga pertamax plus naik dari Rp 2.750 menjadi Rp 4.200 per liter (52 persen).
Direktur Pemasaran Minyak dan Gas Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Erie Soedarmo sebelumnya mengatakan, penyesuaian harga itu dilakukan karena pertamax selama ini digunakan kelas menengah ke atas, sehingga dapat dipastikan bahwa keputusan menaikkan harga tidak akan membebani masyarakat kecil. "Masak mereka mampu membeli mobil mahal tapi tidak kuat beli pertamax-nya," ujarnya.
Menyikapi kenaikan itu, pengurus harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Husnah Zahir mengatakan, pemerintah tidak bisa melepaskan begitu saja Pertamina menetapkan harga jual produknya. "Harus dicek dan ditanyakan apakah Pertamina telah melakukan perhitungan dengan benar sehingga harus menaikkan harga sedemikian tinggi," katanya.
Dengan kenaikan harga itu, menurut Husnah, Pertamina hanya mempertimbangkan keuntungan semata tanpa memperhatikan kondisi konsumen yang ada.
Dalam kesempatan yang sama, Ari Soemarsono juga mengumumkan rencana Pertamina meluncurkan bahan bakar solar jenis baru, yaitu high speed diesel (HSD). Solar yang kandungan sulfurnya rendah, sekitar 50 part per million (ppm) memiliki cetane number yang tinggi (semacam octane number pada galosin).
Rencananya, HSD akan diolah di kilang-kilang milik Pertamina terutama, kilang Dumai, Riau. Untuk tahap awal akan dilakukan produksi minimal 5-10 kiloliter per hari. Mengenai harga, kata Ari, paling tidak sama seperti pertamax dan pertamax plus, di atas Rp 4 ribu. "Sebab, kalau impor minyak diesel, harga sekarang sudah sekitar US$ 60-65 per barel."
Untuk sementara, kata dia, pendistribusian terbatas untuk Jakarta dan sekitarnya, karena HSD spesifik untuk jenis kendaraan kelas tinggi yang banyak terdapat di Jakarta, seperti Toyota Land Cruiser, bus mesin Mercy, dan kapal pesiar. "Jenis kendaraan itu membutuhkan solar kualitas tinggi," kata dia.
Retno Sulistyowati - Tempo
| Dari Koleksi Foto TEMPO | Under Development
|
|
INDEKS BERITA LAINNYA :
|