Potensi Perusahaan Pembiayaan Dinilai Lebih Besar
Selasa, 10 Mei 2005 | 17:49 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Direktur PT Federal International Finance Taufik Noograha menilai, potensi perusahaan pembiyaan lebih besar dibanding bank dalam menjaring pasar. Pasalnya, meski bunga yang ditawarkan perusahaan pembiayaan lebih tinggi, tapi proses kredit jauh lebih cepat dibanding proses di bank.
"Masyarakat cenderung ke perusahaan pembiayaan karena proses yang lebih cepat dan fleksibel," kata Taufik di Jakarta hari ini.
Kalau bank, lanjut dia, harus melalui akad kredit, yang memakan waktu hingga dua minggu. Sedangkan di perusahaan pembiayaan paling lambat hari kedua sudah disetujui.
Meskipun demikian, menurut Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia Susilo Sudjono, perusahaan pembiayaan cenderung untuk bekerja sama dengan bank dalam melayani masyarakat daripada harus berkompetisi.
Menurut dia, dengan bekerja sama itu perusahaan pembiayaan dan bank dapat memanfaatkan pangsa pasar masing-masing lebih optimal. "Biasanya perusahaan pembiayaan menjaring pasar melalui dealer-dealer kendaraan. Sedangkan bank hanya memasarkan produk kreditnya pada orang yang datang ke bank," katanya.
Direktur Utama PT BCA Finance Henry Koenaifi mengungkapkan hal senada. Ia menyatakan, kerja sama perusahaan pembiayaan dengan bank dapat meminimalkan kekurangan pasar yang dihadapi bank.
"Rata-rata orang yang datang ke bank adalah orang (perusahaan) yang biasa berhubungan dengan bank," katanya.
Sedangkan orang yang datang ke dealer, menurut Henry, biasanya langsung disambut oleh agen perusahaan pembiayaan. Dealer sendiri butuh cepat terima duit, karenanya cenderung menggunakan perusahaan pembiayaan sifatnya lebih fleksibel.
Sebesar 70 persen penjualan mobil saat ini dibiayai oleh perusahaan pembiayaan, dan sisanya dari bank. Sedangkan sekitar 90 persen penjualan sepeda motor dibiayai perusahaan pembiayaan. Pembiayaan yang dibantu fasilitas perbankan sebesar Rp 14,3 triliun.
Total aktiva perusahaan pembiayaan pada akhir 2004 mencapai Rp 74,9 triliun atau melonjak dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp 47,2 triliun. Kontribusi terbesar adalah pembiayaan otomotif mobil dan sepeda motor, yakni 90 persen atau Rp 34,4 triliun.
Rr Ariyani – Tempo





