Hentikan Ekspor Gas Perlu Kesepakatan Nasional
Rabu, 20 Juli 2005 | 10:55 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Purnomo Yusgiantoro, menyatakan siap menghentikan ekspor gas ke luar negeri dan memanfaatkannya sebagai alternatif pengganti BBM. Namun untuk melakukan hal itu perlu ada kesepakatan nasional.
“Memang ada wacana untuk penghentian ekspor gas tapi harus diingat ekspor energi juga memberi sumbangan besar bagi APBN,” kata Purnomo seusai seminar Rancangan Undang Undang Energi di Hotel Shangrila, Rabu (20/7).
Ia menjelaskan, ekspor sektor energi masih memberikan kontribusi yang cukup besar bagi penerimaan negara. Sekitar 110 triliun rupiah, disetor ke kas negara pada tahun lalu. “Memang saat ini yang menjadi primadona adalah gas, karena harga gas mengikuti harga minyak,” tambahnya.
Menurut Purnomo, kebijakan masa lalu memang lebih mengutamakan untuk ekspor energi. Maka, lapangan-lapangan gas yang memiliki cadangan besar banyak diekspor ke luar negeri, sedangkan kebutuhan dalam negeri dari lapangan kecil.
Namun, saat ini ada perubahan paradigma, “Salah satunya kita sedang membangun LNG terminal untuk memenuhi kebutuhan Jawa.”
Purnomo menjelaskan, arahan kebijakan saat ini pemenuhan gas untuk kebutuhan domestik juga diutamakan. “Untuk ekspor 50 persen kebutuhan domestik juga 50 persen,” kata Purnomo. Muhamad Fasabeni





