Pemerintah Akui Harga Minyak Kurang Realistis

Kamis, 18 Agustus 2005 | 14:40 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Pemerintah mengakui asumsi harga minyak dalam anggaran negara tahun 2006 kurang realistis seperti disuarakan pelbagai kalangan.

"Memang," kata Kepala Badan Pengkajian Ekonomi Departemen Keuangan Anggito Abimanyu di Jakarta, Kamis (18/8), "Pak SBY (Presiden Susilo Bambang Yudhoyono) juga mengaku harga itu kurang realistis."

Menurut Anggito, asumsi itu ditetapkan pada Juni 2005 karena pemerintah harus menyerahkan asumsi makro tahun depan pada pertengahan tahun ini. Pada waktu itu, harga minyak dunia berada dalam kisaran US$ 45-45 per barel.

Karena itu pemerintah membuka peluang perubahan asumsi yang disesuaikan dengan kondisi saat ini. Menentukan harga minyak, kata Anggito, perlu hati-hati agar asumsi tak ditetapkan terlalu tinggi sementara realisasinya jauh lebih rendah. "Susah motong anggarannya," katanya.

Ia sendiri memperkirakan, asumsi harga minyak yang realistis tahun depan sebesar US$ 45 per barel. "Saya akan usulkan ini ke DPR," katanya.

Usulan perubahan ini akan berdampak pada naiknya penerimaan dan belanja negara. Namun, ujar Anggito, kenaikan itu tak akan memperngaruhi pertumbuhan ekonomi 6,2 persen.

Suryani Ika Sari






Komentar Anda

Kirim