Bisnis Properti Tak Terpengaruh Dolar Naik
Jum'at, 16 September 2005 | 17:03 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Kenaikan kurs dolar beberapa waktu yang lalu hingga menembus angka Rp 10 ibu hanya berefek kecil terhadap bisnis properti, seperti apartemen. "Untuk proyek yang sedang berjalan, efeknya kecil apalagi yang sudah 80 persen," ujar Direktur Nasional Jones Lang Lasalle Indonesia, Lusi Rumantir, Jumat (16/9).
Alasan Lusi, bisnis properti yang sedang berjalan, sudah mempunyai kesepakatan dengan suplier mengenai harga proyek. "Deal terjadi sebelum kenaikan dolar, jadi lebih aman,"ujarnya.
Bisnis properti yang sudah selesai tahap pembangunannya juga aman dari efek kenaikan dolar. Hanya saja kenaikan ini berefek besar pada bisnis properti yang masih dalam tahap tawar menawar dengan kontraktor. "Saat ini sudah ada dua yang menunda proyeknya karena sambil melihat situasi,"kata Lusi.
Bertahannya bisnis properti saat ini dibanding dengan bisnis properti pada saat krisis moneter tahun 1998 karena ada perbedaan pola pikir. Menurutnya, sebelum tahun 1998, pengembang hanya mempunyai sedikit modal sehingga jumlah pinjaman ke bank menjadi besar. "Saat ini modalnya lebih besar, sehingga jumlah pinjaman ke bank tidak terlalu besar,"ujar Lusi.
Selain itu, pengembang sekarang memilih untuk mengambil pinjaman dalam bentuk rupiah. Sedangkan, sebelum tahun 1998, pengembang mengambil pinjaman dalam bentuk dolar dengan alasan bunganya lebih kecil dibanding pinjaman dalam bentuk rupiah. Akibatnya, menurut Lusi, sebelum tahun 1998 pengembang terpukul dengan kenaikan dolar hingga jumlah pinjaman mereka menjadi berlipat ganda bahkan menjadi lima kali lipat.
Dalam tiga tahun terakhir proyek pembangunan properti di Jakarta menunjukan bangkitnya bisnis itu usai krisis tahun 1998 lalu. Saat ini, menurut Lusi, ada 55 proyek properti, terutama kondominium yang sedang dibangun di Jakarta. Bila seluruh proyek tersebut selesai sesuai target maka pada akhir 2007 nanti, jumlah kondominium di Jakarta bertambah dua kali lipat ekarang menjadi 67 ribu unit.
Indriani
Topik :






Komentar Anda :