YLKI Tolak Kenaikan Harga Elpiji
Sabtu, 26 November 2005 | 17:27 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menolak kenaikan harga gas dalam tabung (elpiji). Alasannya, tidak ada kejelasan struktur biaya produksi gas dalam tabung.
Ketua YLKI Indah Sukamaningsih mengatakan masyarakat tidak mengetahui dengan jelas berapa struktur biaya produksi gas dalam tabung. ?Kami tidak pernah tahu dari mana bahan baku pembuatan elpiji, apakah dari Pertamina sendiri, dari KPS atau impor,? kata Indah dalam jumpa pers di kantor YLKI Jakarta, Sabtu (26/11).
Indah mengatakan dengan kenakan harga gas dalam tabung yang mencapai Rp 6.000 per kilogram maka menempatkan harga jual gas dalam tabung Indonesia lebih mahal dibandingkan harga gas dalam tabung di Thailand dan India, yakni sekitar Rp 3.000 dan Rp 4.000.
Kenaikan harga gas dalam tabung ini akan menambah beban masyarakat. ?Pengguna elpiji itu tidak saja masyarakat kelas menengah dan atas, tapi juga masyarakat kecil,? katanya.
Sebelumnya Direktur Pengolahan Pertamina Soeroso mengatakan harga gas dalam tabung tidak hanya dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak mentah. Namun faktor permintaan gas dalam tabung juga berpengaruh. Gas dalam tabung ini masih banyak yang impor sehingga makin tinggi permintaan maka harga akan semakin meningkat. ?Elpiji belum sepenuhnya kita produksi sehingga harganya cukup tinggi,? katanya.
muhamad fasabeni




Komentar Anda :