Kenaikan IHSG Bukan Cerminan Perbaikan Kondisi Ekonomi
Kamis, 15 Desember 2005 | 16:07 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Bekas Menteri Keuangan zaman Soeharto, Fuad Bawazier menyatakan kenaikan indeks harga saham gabungan akhir-akhir ini lebih merupakan respon pasar terhadap kabinet baru Susilo Bambang Yudhoyono.
Menurut Fuad, penguatan IHSG itu bukan cerminan perbaikan kondisi ekonomi Indonesia. "Imbas adanya reshuffle kabinet menaikkan indeks harga saham gabungan. Tapi dampaknya tidak riil pada perbaikan ekonomi,"katanya pada diskusi Masyarakat Investor Sekuritas Indonesia, Jakarta, Kamis (15/12).
Sebelum diumumkannya kabinet baru, IHSG 1 Desember berada pada angka 1096,37 poin. Pada Kamis 2 Desember, ketika Presdein Yudhoyono mengumumkan akan memasukkan nama Boediono dalam kabinet, pasar merespon positif sehingga indeks terangkat pada posisi 1119,41 poin.
Indeks kembali menguat pada penutupan Jumat 5 Desember setelah Presiden mengumumkan kabinet barunya, menjadi 1120,58 poin. Indeks menguat tipis karena pasar khawatir dengan rencana kenaikan suku bunga Bank Indonesia. Setelah BI mengumumkan BI Rate hanya naik 50 poin, pasar kembali merespon positif sehingga indeks menjadi 1151,36 pada 7 Desember.
Menurut Fuad, perkembangan harga indeks ini tidak mencerminkan kondisi ekonomi Indonesia secara riil. "Indeks belum bisa dijadikan indikator ekonomi yang objektif,"katanya. Karena, perkembangan pasar modal Indonesia masih dikuasai oleh investor asing. "Pasar modal lebih dikuasai pemodal asing. Sehingga lebih dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah,"katanya.
Tito Sianipar





