Hasil Negosiasi NAMA Untungkan Negara Berkembang

Selasa, 27 Desember 2005 | 05:38 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Kesepakatan perundingan bidang industri atau non agricultural market access (NAMA) di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) di Hongkong pertengahan bulan ini akan melindungi industri dalam negeri dari liberalisasi perdagangan.

Negara berkembang dan negara maju sepakat untuk menurunkan tarif bea masuk untuk membuka akses pasar yang lebih luas. Mereka sepakat menggunakan formula Swiss plus dengan dua alpa senagai koofisien untuk mekanisme penurunan tarif itu.

Ansari Bukhari, perwakilan Indonesia dalam negosiasi itu, mengatakan formula itu berisi rumusan penurunan tarif di negara maju lebih tinggi dibanding negara berkembang. ?Itu yang kita sepakati sebagai modalitas untuk perundingan selanjutnya,? kata dia, Senin(26/12) di Jakarta. Perundingan akan dilakukan di markas besar WTO di Swiss April tahun depan.

Ansari, yang juga Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Tekstil, dan Aneka Departemen Perindustrian, menjelaskan Indonesia menginginkan penurunan tarif tidak lebih besar dari angka 20 persen. ?Kita ingin tarif terikat di WTO tidak kurang dari 20 persen,? ujarnya.

Saat ini tarif terikat di WTO sebesar 40 persen. Tarif terikat ini digunakan untuk melindungi industri dalam negeri dari serbuan negara maju. Negara maju menginginkan tarif terikat di WTO di bawah 20 persen, bahkan dibebaskan.

Untuk melindungi industri strategis, negara berkembang juga diperkenankan mengusulkan tarif tidak terikat ke WTO.

sutarto






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: