Ekspor Gas Akan Dikurangi
Kamis, 29 Desember 2005 | 11:07 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah akan mengurangi ekspor gas dan mementingkan pasokan untuk industri pupuk yang sedang membutuhkan bahan baku. "Ini implementasi jangka pendek," kata Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Sugiharto, Rabu (28/12) malam.
Dalam setiap rapat kabinet membahas soal pupuk, kata dia, para menteri berdebat soal prioritas pasokan gas dalam jangka pendek. "Apakah gas diekspor atau untuk pupuk," ujarnya.
Menurut Sugiharto, jika gas lebih banyak dipakai untuk membuat pupuk efek penggandanya sembilan kali lebih besar jika dijual ke luar negeri, meskipun penerimaan negara berkurang. Dalam hitungan dia, mengalihkan gas menjadi pupuk akan susut US$ 3 per MMBtu dibanding jika diekspor.
Menteri Keuangan dan Menteri Energi menginginkan agar gas tetap lebih banyak untuk ekspor. Namun, kata Sugiharto, pasokan gas untuk pupuk selain akan menyelamatkan pabrik-pabrik pupuk yang terancam tutup juga akan memberi nilai tambah bagi petani. “Jangan cuma lihat untung besar.”
Dalam rapat kabinet terakhir, pembicaraan sudah mengarah ke pengurangan ekspor. Pertimbangannya, efek pengganda itu tadi. Selain itu kas negara juga sedang bagus sehingga tak perlu menggenjot penerimaan lewat ekspor gas. Bagja Hidayat





