Harga Semen Akan Naik
Selasa, 17 Januari 2006 | 17:33 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Kenaikan tarif dasar listrik pada tahun ini akan membuat biaya produksi beberapa industri meningkat tajam. Kenaikan biaya ini akan diikuti dengan meningkatnya harga jual produk ke pasar.
Presiden Direktur PT Holcim Indonesia Tbk. Timothy D. Mackay, mengatakan kenaikan tarif dasar listrik yang sedang digodog pemerintah bersama PT Perusahaan Listrik Negara(PLN) akan memberatkan industri semen. Pasalnya, biaya listrik di industri semen mencapai 20 persen total biaya produksi.
"Kami prihatin dengan kenaikan itu," kata Tim Mackay, Selasa(17/1), seusai pengumuman perubahan nama PT Semen Cibinong Tbk. menjadi PT Holcim Indonesia Tbk. di Narogong, Bekasi.
Selain menggunakan listrik sebagai sumber energi, industri semen biasanya juga memakai batu bara untuk proses produksinya. Mackay menyebutkan total biaya energi di industri semen mencapai 40 persen dari biaya produksi. "Karena itu pasti ada penyesuaian harga jika tarif listrik naik," katanya.
Namun, dia melanjutkan, perusahaannya belum tahu besar kenaikan harga jual semen ke konsumen akibat kenaikan tarif listrik ini. Mackay mengatakan kenaikan harga jual akan dilakukan perlahan-lahan.
Untuk mengatasi melonjaknya biaya produksi, pabrik semen yang dulunya bernama PT Semen Cibinong Tbk. ini telah menyiapkan beberapa energi alternatif. Di antaranya dengan mengganti bahan bakar minyak dengan tempurung kelapa sawit. Pemakaiannya telah dilakukan sejak enam bulan terakhir.
Mereka juga telah mengunakan batu bara untuk mengolah batu kapur menjadi semen. Namun, ia mengakui listrik tidak bisa diganti dengan energi lain.
Sebelumnya, akibat kenaikan harga bahan bakar minyak, satu pabrik semen milik PT Holcim Indonesia Tbk. di Cilacap tutup. Perusahaan berbasis di Swiss ini akan menganti listrik dari diesel milik perusahaan dengan listrik dari PLN. "Rencananya Oktober tahun ini baru akan beroperasi kembali," ujar dia. SUTARTO





