close

Tak Ada Investasi Baru di Industri Pulp dan Kertas

Kamis, 19 Januari 2006 | 17:30 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Industri pulp dan kertas tahun ini tidak akan tumbuh karena tidak ada investasi baru di sektor ini. Padahal, pasar dalam negeri dan luar negeri masih terbuka lebar.
Menurut Ketua Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia Muhammad Mansur, produksi pulp mencapai 6,4 juta ton dan kertas 10,4 juta ton. "Produksi pulp peringkat 9 dunia dan kertas peringkat 12 dunia,"katanya.

Produksi pulp 45 persen digunakan untuk ekspor. Sedangkan ekspor kertas mencapai 35 persen dari produksi. Produsen pulp dan kertas di Indonesia mencapai 80 perusahaan. Produksi pulp dan kertas, menurut Mansur, tidak akan bertambah tahun ini. "Produksinya sudah 95 persen dari kapasitas terpasang, sementara sampai saat ini tidak ada investasi baru yang besar,"ujarnya.

Industri pulp dan kertas, sesungguhnya memiliki peluang yang besar. Total kebutuhan pulp dunia mencapai 200 juta ton. Sedangkan kebutuhan kertas mencapai 370 juta ton.
Sebelumnya, Departemen perindustrian mentargetkan industri kertas dan barang cetakan lainnya tumbuh sebesar 7,5 persen pada 2006. Pada Tahun lalu,industri ini hanya tumbuh 6,1 persen. Konsumsi kertas perkapita di Indonesia saat ini juga masih sangat rendah sekitar 25 kilogram per tahun. Thailand mencapai 35 kilogram, Malaysia 106 kilogram, dan Singapura 180 kilogram.

Pembangunan pabrik pulp dan kertas membutuhkan investasi yang besar. "Satu pabrik pulp dengan kapasitas 1 juta ton membutuhkan investasi US$ 1 miliar,"ujar Mansur.
Potensi lahan yang bisa digunakan untuk pabrik pulp dan kertas juga besar. Lahan yang dikembangkan untuk pulp dan kertas baru 3,3 juta hektar dari lahan produksi 64 juta hektar di Indonesia.

Sutarto

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Topik :

Komentar Anda :

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan