PLN Hitung Ulang Skenario Tarif Listrik

Minggu, 12 Maret 2006 | 01:05 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Perusahaan Listrik Negara (PLN) akan menghitung ulang skenario kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) bila pemerintah telah memutuskan pemberian tambahan subsidi. Perhitungan ini untuk menentukan besaran kenaikan tarif berdasarkan hasil audit Biaya Pokok Penyediaan dari Badan Pemeriksa Keuangan.

Juru Bicara PLN, Muljo Adji, mengatakan skenario tarif dasar listrik PLN yang diajukan Januari lalu tidak lagi dijadikan acuan kenaikan tarif. "Kami lihat dulu berapa tambahan subsidi dari pemerintah kemudian dihitung ulang untuk tentukan kenaikan listriknya," kata Muljo pada Tempo di Jakarta, Sabtu (11/3).

Sumber Tempo di pemerintahan menyebut pemerintah hanya mampu menambah subsidi maksimal Rp 5-6 triliun. Dengan tambahan itu maka subsidi listrik sebesar Rp 22-23 triliun sebab dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara subsidi untuk PLN telah ditetapkan Rp. 17 triliun.

Berdasarkan audit BPK atas biaya pokok penyediaan produksi listrik yang dikeluarkan kamis lalu, defisit PLN mencapai Rp 27,2 triliun sehingga ada kekurangan Rp. 4,2-5,2 triliun. Kekurangan ini yang akan ditutup pemerintah dengan menaikkan tarif listrik.

Muljo menambahkan setelah perhitungan ulang kenaikan tarif dilakukan, PLN akan mengajukan pada pemerintah besaran kenaikan tarif. "Jika keinginan pemerintah lebih rendah dari harapan PLN langkah terakhir dengan menurunkan target penjualan listrik, target penjualan yang digunakan berdasarkan asumsi yang digunakan BPK sebesar 111.932.070 MWh (Megawatt Hours)," katanya.

Direktur Keuangan PLN Parno Isworo mengatakan pihaknya siap melaksanakan apapun keputusan pemerintah mengenai tarif dasar listrik. Namun meminta agar pemerintah mengamankan pasokan bahan bakar untuk kelangsungan pasokan listrik.

Disamping itu, ujar Parno, pemerintah juga diminta menjaga investasi PLN yang diperlukan guna meningkatkan effisiensi. " Kalau investasi dikurangi ibarat membakar jembatan untuk menuju listrik yang lebih murah," kata Parno.

Parno menjelaskan investasi juga diperlukan untuk dapat menurunkan susut listrik. Target susut jaringan PLN 2006 sebesar 9,72 persen sedangkan kondisi susut saat ini masih mencapai 10,05 persen.

Namun untuk menurunkan susut listrik, kata Parno, memerlukan investasi yang besar, diperkirakan butuh Rp 1 triliun untuk dapat menurunkan susut setrum satu persen. Sedangkan hasil effesiensi dengan penurunan susut satu persen hanya sebesar Rp 560 miliar.

Muhamad Fasabeni






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: