close

Jawa dan Bali Terancam Krisis Listrik

Kamis, 06 April 2006 | 21:37 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pasokan listrik Jawa Bali terancam krisis karena kekurangan pasokan bahan bakar minyak. PLN membatalkan pemadaman listrik yang rencananya akan dilakukan akibat persediaan bahan bakar minyak untuk Pembangkit Listrik Tenaga Gas Muaratawar habis.

Sebelumnya, Perusahaan Listrik Negara ini menyatakan ada kemungkinan pemadaman listrik malam ini. PLN meminta pelanggan listrik Jawa dan Bali untuk mengurangi pemakaian listrik pada pukul 17.00-22.00 WIB. Saat ini beban puncak listrik di Jawa Bali sebesar 14 ribu megawat.

Menurut General Manajer Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Jawa Bali Muljo Adji, batalnya pemadaman listrik dikarenakan PLTG Muaratawar mampu mempertahankan pasokan hingga beban puncak sebesar 100 megawat dan adanya pasokan listrik dari PLTU Cilacap sebanyak 155 megawat.
Selain itu, akibat pengurangan penggunaan listrik oleh masyarakat, memberikan pasokan sebanyak 327 megawat.

“Jadi pasokan listrik yang tadinya defisit sebesar 500 MW, tertutupi dengan pasokan listrik sebesar 582 megawat,” ujar Muljo pada Tempo, Kamis malam.

Menurut dia, PLN mengapresiasi pada seluruh pelanggan yang berhasil menghindarkan terjadinya pemadaman. “Tetapi kami tetap mengharapkan partisipasi penghematan dapat dilakukan lagi besok malam,” katanya.

Ia menjelaskan, menurut jadwal, Pertamina akan memasok bahan bakar pada 9 April. Karena insiden kehabisan bahan bakar ini, PLTG Muaratawar telah meminta pengiriman pasokan dipercepat.

Muljo menjamin, jika malam ini atau besok pasokan minyak yang diminta ke Pertamina telah datang, tidak akan terjadi krisis listrik. “Tapi jika belum datang juga, listrik masih akan krisis,” katanya.

R.R. Ariyani

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Komentar Anda :

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan