Indonesia Manfaatkan Fasilitas IDB
Jum'at, 05 Mei 2006 | 20:03 WIB
TEMPO Interaktif, Amman: Indonesia akan memanfaatkan fasilitas trade financing dari Islamic Development Bank (IDB) untuk mengimpor minyak mentah dari Saudi Arabia. Dengan demikian, Indonesia mempunyai waktu lebih banyak 6-12 bulan untuk membayar impor minyak itu. Indonesia juga sepakat membeli minyak mentah dari Saudi Aramco 150.000 barel per hari.
Demikian salah satu hasil kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke lima negara di kawasan Timur Tengah, yang disampaikan Kamis tengah malam kepada pers, dalam pesawat yang membawa Presiden dan rombongan kembali ke Jakarta.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro menambahkan, selama ini waktu pembayaran impor minyak dari Saudi Aramco hanya satu bulan. “Ini sering menyusahkan kita. Bahkan pernah terjadi kelangkaan di masa lalu, gara-gara pembayaran telat,” kata Menteri Purnomo Yusgiantoro.
Dengan fasilitas dari IDB yang prosesnya segera dimatangkan, termasuk besar bunganya, Indonesia bisa membayar ke IDB enam bulan atau bahkan setahun, setelah pengiriman minyak. Pihak IDB kemudian membayar ke Saudi Aramco sesuai term pembayaran yang ditetapkan. Fasilitas trade financing itu juga akan dipakai dalam pembelian bahan bakar minyak dari Kuwait.
Selain fasilitas IDB itu, Indonesia yakin bisa meraih US$ 7-8 miliar (sekitar Rp 62-71 triliun) dari kerja sama pembangunan kilang pengolahan minyak dengan Saudi Arabia, Kuwait,dan Qatar. Kilang minyak itu akan ditempatkan di Jawa Timur dan kawasan Indonesia Timur lainnya.
Selain kemudahan dari IDB, Indonesia akan menerima tambahan devisa dari eksplorasi gas oleh Kuwait di Laut Cina Selatan bagian Barat. Kuwait menemukan deposit gas kecil di sana, yakni 1 triliun cubic feet (TCF). Karena depositnya kecil, Kuwait minta izin untuk mengolahnya di Singapura yang jaraknya lebih dekat. “Kami izinkan. Kuwait juga minta konsesi tambahan eksplorasi gas di Pulau Buton,” ujar Menteri Purnomo.
Menteri Purnomo juga mendapat komitmen dari pemerintah Qatar untuk memasok gas ke Indonesia mulai 2008. Kontrak pembelian gas dari Qatar itu untuk memasok ke PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) di Nanggroe Aceh Darussalam yang berhenti beroperasi sejak 2003. Sementara pasokan gas dari Qatar belum datang, pasokan gas ke PIM didapat dengan mengalihkan 10 persen jatah gas PT Pupuk Kalimantan Timur di lapangan Bontang. Setelah gas Qatar datang, diharapkan problem pasokan untuk PIM selesai. Apalagi pada tahun 2010, lapangan gas Blok A dekat Arun diperkirakan mulai memproduksi gas. Thoriq Hadad





